untuk perempuan kuat

Tuhan menitipkan segumpal daging dan darah pada rahim seorang wanita. Dari baru saja berupa darah dan daging, hingga menjadi janin yang perlahan berkembang di dalam rahimnya. Terus membesar, menambah berat langkahnya. Sampai tertatih menahan bobot tubuhnya yang pasti akan terus naik. Wanita yang selalu menanti dengan sabar dan penuh kasih sayang, hingga makhluk yang bernama bayi lahir. Itulah aku.

Aku masih ingat, komunikasi pertama yang aku lakukan dengan rahim seorang wanita yang telah ditetapkan sebagai ibuku. Sejumlah harapan terdengar dari tali pusar yang terhubung antara aku dan ibu. Harapan yang diucapkan dari lidah dengan penuh keikhlasan. Aku menutup mataku yang masih belum sempurna. Rasanya, Tuhan menitipkan aku pada orang yang sangat tepat.

“Nak, semoga kamu nanti menjadi orang yang berguna. Anak yang berbakti pada orang tua. Jadi anak pinter ya….”, itulah harapan pertama yang aku dengar dari getaran suara melalui tali pusar sampai ke telingaku. Harapan itu membentuk sebuah udara yang membuat telapak tangan dan kiriku yang merekat erat perlahan saling memisahkan diri.

Ruang gerakku semakin sempit setiap harinya. kadang aku gelisah di dalam sini. Aku pun tak jarang berontak memaksa keluar. Menendang-nendang lapisan yang membatasiku ini dengan sekuat tenaga. Mecoba melakukan protes dari dalam sini agar seseorang yang bernama ibu mengeluarkan aku. Tindakan brutalku terhenti oleh sebuah kecupan yang terhalang oleh dinding yang membatasi ruang gerakku. Kecupan tepat di keningku. Hangat dan penuh kasih sayang. Lalu, aku merasakan lembut sepasang tangan membelai lapisan di luar rahim, sampai kegelisahanku sirna oleh belaian yang rasanya tidak dapat aku jelaskan.

Aku mulai bisa merasakan ibu sangat sayang padaku. Begitu juga seseorang yang mengecupku. Ibu berkata itu ayah. Aku belum mengenalinya. Tapi aku yakin akan selalu ingat kecupan itu. Sesekali, ibu bernyanyi untukku. Lagu yang bisa membuat aliran darahku mengalir berirama. Aku selalu menantikan ibu bernyanyi.

Aku pernah merasakan ibu sakit. Aku hanya bisa merasakannya, karena aku ada di dalam sini. Saat ibu menahan sakitnya, aku masih saja dibelai. Masih saja dia membisikan kata-kata yang tersusun dari deretan rasa cinta setelah ia berbaring lemah. Padahal aku tahu dia tidak begitu kuat.

Seingatku, ibu berteriak sangat sakit saat telapak tangan kanan dan kiriku dapat berpisah. Di antara keduanya terselip harapan yang pernah ibu berikan untukku.  Aku merasa ada yang memaksaku keluar dari tempat sempit ini. Harapan yang berada diantara telapak tanganku akan jatuh. Aku terus menahannya. Itu adalah titipan ibu. Beruntunglah aku dapat menggamnya dengan kedua tanganku tepat ketika aku melihat sesuatu yang terang.

Aku disambut dengan suka cita. Kecupan di keningku dari bibir yang aku kenal. Ini pasti ayah. Aku meyakinkan diriku. Dan memang benar. Tangan yang membelaiku pasti ibu. Cara membelainya tidak berbeda ketika aku masih di dalam rahim. Di dunia inilah akan aku jalani hidup bersama harapan yang telah aku genggam.

Setiap malam, entah kenapa, ayah dan ibuku rela memberikan jam tidurnya untuk menemani rengekku. Meskipun aku mengeluarkan rengekkan palsu tanpa sepengetahuan mereka. Seluruh waktunya untuk aku. Aku merasa beruntung memiliki mereka yang menyayangiku sepenuh hati.

Hingga aku berada di sini sekarang. Semua masih terekam jelas. Harapan itu kini menjadi tanggung jawabku. Aku tahu, ibu selalu menyisipkan tawa untukku disela kesibukannya. Aku selalu merasakan belaian ibu, disela kepedihan hatinya. Aku masih merasakan semangat ibu yang diberikan untukku, disela dia lebih membutuhkannya.

Begitu juga ayah. Memelukku ketika aku merasa dunia ini sepi, padahal keletihan seharusnya segera hilang dengan membaringkan tubuhnya. Masih saja memberikan seutas senyumnya kala segala urusan berkumpul dikepalanya. Selalu menyediakan bahunya untuk menopangku agar senantiasa menjadi manusia yang tegar.

Harapan yang ibu dan ayahku katakan bersama-sama saat aku masih ada di rahimnya adalah amanah untukku. Saat lahir, aku telah menggengamnya dan kini telah meresap dalam dalam pada telapak tanganku.

Ibu tidak perlu lagi tersenyum diantara kegelisahannya, karena aku yang akan menciptakan sepuluh ribu kebahagiaan untuknya. Ayah tak usah menyediakan bahunya untuk membuatku menjadi selalu tegar, karena aku yang akan membelakkan mata dunia karena bangga dengan segala yang aku punya. Mereka berdua tidak perlu lagi terjaga di tengah malam, karena aku yang akan membuat kesunyian malam menjadi selimut tidur mereka.

Aku, adalah anak yang paling beruntung karena di titipkan oleh Tuhan kepada Papa dan Mama. Aku cinta mereka bukan karena jasa yang telah mereka beri untukku, tapi karena cinta itu sendiri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s