pembunuh nyamuk

Hari ini gue melakukan hal yang berdosa. Gue merasakan perasaan Maruto dan kawan-kawannya. [Oh Tuhan, maafkan hambamu ini]. Tapi, gara-gara hal ini gue jadi menemukan salah satu bakat terpendam gue. Yaitu, membunuh nyamuk.

Dosa ga sih? Kalo dosa, tobat deh. Tobaaaat. Mungkin aja nyamuk yang gue bunuh itu adalah tulang punggung keluarganya yang lagi nyari nafkah buat anak-istri di rumah. Atau mungkin, nyamuk itu adalah musafir. Oh, tidak. Saya benar-benar merasa berdosa telah membunuh makhluk tak berdosa. Tapi, menurut pemikiran alam bawah sadar gue, membunuh nyamuk itu ga apa-apa. Mereka ngisep darah tanpa ijin yang sama artinya dengan maling. Iya toh? Jadi tindakannya adalah tindakan kriminal. Tak apa saya bunuh. Huh… Ya sudah lah, yang lalu biarlah berlalu.

Ini semua gara-gara alat canggih terobosan dari abad 20.  Alat ini dikembangkan untuk membunuh nyamuk dari gaya tradisional, yaitu di tepok dengan metode untung-untungan [dapet sukur, ga dapet yang tetep bunyi proook]. Dulu, sempet ada alat memusnahkan nyamuk ala bar-bar, sebelum raket nyamuk tercipta. Penemunya emak gue sendiri. Gue yakin emak gue penemunya.

Jadi, tutup panci ukuran sedang dioleskan minyak goreng secukupnya. Ingat, jangan dijilat karena rasanya ga enak [sumpah, gue udah pernah nyobain]. Lalu, dekatkan alatnya ke nyamuk yang lewat, baik yang lewat karena sengaja maupun tidak sengaja. Dijamin, nyamuknya nempel.

Adalah Mossquito Racketo, pria spanyol yang lahir sesar, telah menciptakan alat mutakhir berjudul raket nyamuk. Ya, raket nyamuk yang sekarang udah tersedia di toko-toko kesayangan anda dengan berbagai model. Nah, alat itu lah yang membantu saya mensuksesken misi membunuh nyamuk di kamar nyokap.

Kenapa jadi banyak nyamuk di rumahkuuuuu? Gara-gara kamu, malas bersih-bersih. Kamu sih nih gara-garanya. Hahaha.

Sejak ada alat itu, beberapa hari belakangan ini gue jadi keranjingan kerajinan membunuh nyamuk pake raket ajaib itu. Sebelum melakukan misi itu, gue harus mengeset diri gue ala Angelina Jolie di Tom Rider. Bedanya cuma 11-12 lah ma gue. Gue 12nya, doi 11 [juta…. kuwakuwauuw].

Mata gue tajam melihat kemana arah terbangnya mangsa gue itu. Dia ke kiri, gue lompat ke kiri. Zzzzztttt, dapet.. Dia ke kanan, gue koprol ke kanan. Zzzzztt, dapet lagi. Begitulah seterusnya hingga saya bosan. Terus, gue berdiam diri di pojokan. Mengamati nyamuk kaya anak autis. Ada nyamuk lagi, dengan gesit gue arahkan itu raket. Kali ini gayanya mirip Taufik Hidayat mengejar smash keras dari Lin Dan. Kebayang dong betapa norak keren gaya gue saat itu.

Dan, kegiatan membunuh hari ini terhenti karena suara misteri yang dengan ajaib keluar. “Duuuuutd” begitu merdu. Ternyata, ada lagi cara membunuh nyamuk dan mikroba, sekaligus mengusir acara senang-senang ala gue.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s