Penantian Panjang

Rasa iri katanya penyakit hati. Dalam melewati proses panjang ini, saya selalu diliputi rasa iri dan tidak puas. Artinya, saya berpenyakit hati. Segala pertanyaan masih belum terjawab: “Hanya sampai batas ini kah kemampuan saya? Atau saya yang belum maksimal?”. Dan pertanyaan itu mengantarkan saya pada perasaan tidak pernah puas. Mengalir saja atau kata Pak Irsyad “Let it flow”. Ya, mengalir mengikuti irama hidup dan kehidupan adalah penyelesaian atas ketidakpuasan saya. Sudah ada yang mengatur dan saya harus belajar bersyukur. Bersyukur tidak hanya pada sesuatu yang menyenangkan tetapi juga bersyukur pada kejadian, hasil, proses yang tidak enak. Itulah hidup. Saya harus selalu berjuang. Sukses adalah awal, bukan garis finish.

Sebuah fragmen hidup telah saya lalui. Alhamdulillah. Dengan segala kemampuan dan keterbatasan yang saya miliki, penantian yang sempat tertunda cukup lama akhirnya terlewati sudah, meskipun perjuangan belum berakhir sampai di sini. Proses sidang yang tidak sempurna demi sebuah gelar tidak akan menyurutkan langkah untuk terus melangkah maju dan maju jauh ke depan. Cerita ini akan terus saya kenang, akan terus saya bawa.

Sekali lagi, alhamdulillah.Terima kasih banyak, Ya Allah.

Dengan bekerja kau rasa manis bekerja kau rasa manis

Manis manislah manislah nafasmu

Dengan belajar kau rasa asin belajar kau rasa asin

Asin asinlah asinlah nafasmu

Dengan bercinta kau rasa pahit bercinta kau rasa pahit

Pahit pahitlah pahitlah nafasmu

Perjuangan tidak berakhir sampai di sini. Hidup masih menunggu. Dan tidak boleh lengah!

“Number nine, setelah proses akhir nanti, kita pasti bisa terus berjuang sama-sama kan? Kita tetap bisa menangisi kebodohan kita sama-sama kan? Kita tetap bisa menertawakan ketidaklucuan sama-sama kan? Tidak ada yang perlu disesali terlalu lama. Pun kekecewaan itu sempat menghilangkan sejenak senyummu. Aku lihat begitu. Tapi sudahlah. Hidup yang lain masih menunggumu di depan sana”.

“Ajicho, terima kasih untuk setiap semangat. Dan kini, kita akan mulai lembar hidup bersama-sama. Kau dan aku yang sama-sama berjuang, bergelut, bermandikan peluh demi satu kata yang disebut ‘KITA’… i lop yu pul”

Advertisements

One thought on “Penantian Panjang

  1. […] daripada orang lain yang berada ‘di bawah’ kita. Pada postingan sebelumnya yang ada di sini, saya menulis bahwa ikhlas pada kemampuan yang saya punya dan menyerah merupakan dua hal yang beda […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s