Perngacoan isi kepala

Pagi ini, sang pacar yang baru menikmati masa-masa seperempat abadnya mendiskusikan masa depan. Memang hubungan ini ga seperti yang ada di televisi, karya fiksi, atau imajinasi pribadi: kenalan, nembak dengan cara yang mengejutkan dan berkesan, pacaran dengan penuh keromantisan, ngelamar pribadi sambil mengucapkan “will you marry me?“, terus menikah dengan bahagia, punya anak, tua, meninggal masuk surga (amiiin), dan akhirnya pas di surga kita ga minta bidadari atau pangeran tampan tapi kita minta pasangan kita (amiiiin). Hubungan ini termasuk hubungan yang santai, cuek, dan apa adanya.

Lingkungan yang patriarki membentuk gue sebagai perempuan yang dibentuk berdasarkan tatanan simbolik. Mungkin ini terjadi juga pada perempuan-perempuan lain di luar sana yang usia pacar udah 25, sudah punya pekerjaan tetap, dan sudah menjalin hubungan dengannya cukup lama. Khususnya ini terjadi pada gue. Keterlambatan lulus membuat semua rencana hidup gue terpaksa mundur. Oke, gue ga nyesel udah menghabiskan masa studi lebih dari yang normal. Suwer, gue ga nyesel. Klo gue nyesel, biar deh pintu kamar gue diketok mba gue dan bilang kalo mie gorengnya udah mateng. *nampaknya mie gorengnya emang udah mateng*

Ampe mana tadi? Keterlambatan menyandang gelar sarjana membuat gue nyaris bunuh diri membuat rencana baru. Awalnya lulus, nyari duit, nikah diusia 25 tahun. Kalo rencana ini teralisasi, paling ngga, gue punya waktu sekitar 2 tahun buat nabung. Tapi sekarang ga bisa gitu lagi. Waktu gue kurang dari 2 tahun buat nabung. Dan tetep ga bisa karena hidup gue itu penuh dikte-an orang tua. *aaarggghhh!!* Mereka meminta gue untuk melanjutkan studi gue.  Tapi saya sangat bersyukur karena orang tua saya sangat memperhatikan pendidikan untuk masa depan saya. Orang cerdas, pintar, dan pandai itu sangat banyak, tetapi belum tentu memiliki kesempatan. Saya sudah memilikinya, tinggal memperjuangkannya. Akan kubuat papa bangga. Saya tidak perlu seporsi mie goreng lagi.

Baik belum tentu benar, dan benar belum tentu baik. Setidaknya kalimat ini menenangkan gue bahwa hidup itu mengalir. Dua porsi mie goreng yang membuat  logika tulisan ini makin ngawur. dan ngantuk tentunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s