Rasa iri kembali menyelimuti

Ikhlas dan pandai bersyukur merupakan dua hal yang sulit untuk diterapkan. Saya gunakan istilah pelajaran hidup tingkat tinggi. Pelajaran yang paling banyak diperlukan, khususnya dalam kehidupan saya pribadi, karena sering dibutuhkan untuk mengatasi penyakit hati yang bernama iri.

Ikhlas dan pandai bersyukur dibutuhkan ketika kita melihat harta tetangga kita, rejeki orang lain, nasib sahabat kita, yang lebih baik dibandingkan kepunyaan kita. Padahal apa yang sudah kita miliki tersebut lebih baik daripada orang lain yang berada ‘di bawah’ kita. Pada postingan sebelumnya yang ada di sini, saya menulis bahwa ikhlas pada kemampuan yang saya punya dan menyerah merupakan dua hal yang beda tipis bagi saya. Tapi, dengan belajar untuk pandai bersyukur, setidaknya saya mulai bisa belajar ikhlas.

Nampaknya, melihat ‘ke atas’ merupakan hambatan kecil untuk kita agar dapat bersyukur. Namun dengan melihat ‘ke bawah’ sikap angkuh dan sombong akan mudah menyelinap ke dalam sanubari kita. Salah satu contohnya ketika seorang pegawai sudah menjatuhkan pilihan pada sebuah tas bagus bermerek. Setelah memilih dan mengantri di kasir untuk membayar, seorang perempuan sederhana yang lebih cantik dari seorang pegawai itu berada tepat di samping kasir sambil memegang tas yang akan dibelinya. Tas itu tidak lebih bagus dan tidak lebih mahal dari yang pegawai itu punya. Perempuan sederhana yang sama sekali tidak bersalah apa-apa akan menjadi sasaran rasa angkuh dan sombong. Kemudian, pada keesokan harinya pegawai tersebut mendapatkan rekan kerjanya menggunakan tas bagus bermerek juga yang pernah menjadi incarannya tapi kemarin tidak pilih. Tas tersebut nampak lebih bagus dan lebih indah meskipun harganya relatif sama dengan yang sudah pegawai itu beli. Keadaan seperti ini sering kali memicu rasa iri. Pada situasi ini, kita dituntut untuk bersyukur. Bersyukur bahwa kita memiliki tas baru sementara rekan kerja yang lain terpaksa menahan diri untuk mengikuti gaya hidup hura-hura karena dirinya adalah tulang punggung keluarga. (Saya sedang membicarakan diri saya, tetapi dengan analogi tas… hahaha). Ya, saya mengalami apa yang pegawai itu alami. Dan, saya hampir melupakan pelajaran tingkat tinggi itu.

Iklhas juga diperlukan ketika kita kehilangan barang kesayangan, uang, memberikan barang yang sudah tidak terpakai kepada orang yang lebih membutuhkan, menerima nilai jelek meskipun usaha sudah maksimal. Tetapi dalam keadaan ini, ikhlas sangat sulit diterapkan. Sepertinya ikhlas dan bersyukur memiliki hubungan yang erat. Saat kita dapat mensyukuri apa yang kita punya, di situlah sesungguhnya kita sedang belajar ikhlas. Dan saat kita sudah ikhlas atas apa yang kita miliki, di saat itulah sesungguhnya kita sudah dapat bersyukur.

Sering kali kita bersyukur saat kita mendapatkan apa yang kita dambakan, tetapi tahukah jika apa yang kita punya itu bisa jadi sebuah ujian..? Seandainya kita mendapat bonus akhir tahun yang cukup untuk dibelikan satu unit Ninja RR. Secara kilat, kita akan menganggapnya sebagai rejeki. Dan sudah sepantasnya kita syukuri. Setelah itu? Apakah pernah kita curiga bahwa itu adalah ujian? Ujian sejauh mana kita tetap konsisten menyisihkan 2,5% harta kita seperti yang kita lakukan sebelumnya, sejauh mana kita tetap rendah hati seperti saat masih menggunakan motor bebek tua sebagai kendaraan utama? Bayangkan jika keadaan seperti ini terjadi pada kita yang memang sedah membutuhkan uang.

Saya mencoba mengingatkan diri saya karena saya hampir lupa bersyukur atas apa yang saya miliki. Saya pun nyaris lupa mengikhlaskan bahwa barang kepunyaan saya tidak lebih bagus dari milik orang lain. Mengapa kita masih meributkan hal-hal duniawi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s