Temuan siang ini

Hari ini saya berpetualang bersama seorang Ninja tanpa ninja. Ada sebuah peristiwa yang membuat saya tercengang. Ini juga terinspirasi dari lagi video klip D’Massive – Jangan Menyerah dan sebuah dialog dengan saudara saya yang peka dan cerdas. Ceritanya, siang ini saya menemani sang Ninja menuju rumah sahabatnya untuk menghadiri sebuah acara “Nujuh Bulanan”. Bukan. Bukan sahabatnya itu yang hamil, soalnya sahabatnya itu laki-laki. Bukan juga isterinya (orang belum beristeri). Tapi kakak ipar si Sahabat ini.

Yup! Upacara ritual nujuh bulanan adalah salah satu ritual adat istiadat dimana sang ibu sedang memasuki usia kehamilan 7 bulan. Ini kali pertama saya menyaksikan betapa seorang ibu yang sedang hamil harus diguyur dan ditonton oleh ibu-ibu pengajian, mengerami telur, dan calon ibu juga harus berganti pakaian tujuh kali dan berjualan rujak. Banyak hal yang sifatnya mitos, tetapi inilah kebudayaan. Banyak terdapat simbol-simbol di dalamnya yang tidak dapat diperdebatkan secara logika. Berikut ini saya coba tuliskan apa yang menarik dari isi kepala saya:

1. Keluarga calon ibi adalah keluarga terpandang dan ‘berada’ tanpa harus menjual rujak. Dalam sumber yang saya baca, berjualan rujak memiliki arti bahwa hidup ini harus dijalani dengan penuh antusias. Entah apa hubungan antara rujak dengan antusias seseorang.

2. Seorang ibu harus mengerami telur. Padahal, manusia itu beranak, bukan bertelur. Dan setelah anaknya lahir, anak itu tidak perlu di erami. Tetapi, mengerami telur merupakan simbol untuk menujukkan kesabaran dan ketelatenan orang tua dalam merawat anak.

3. Sang ibu juga harus repot-repot menjajal tujuh buah baju. Prosesi ini merupakan wujud pengharapan agar persalinannya lancar dan berkah.

Masih banyak lagi bagian-bagian dari ritual nujuh bulanan. Tetapi bukan ini yang ingin saya utarakan. (Maaf, jadi ngalor ngidul). Dalam perjalanan menyaksikan upacara nujuh bulanan, saya melihat tiga orang laki-laki berpakaian tradisional sedang mengamen sebuah kesenian tradisional yaitu jaranan. Keliling kampung dengan menggunakan pakaian tradisional dan make up tradisional, tanpa alas kaki, dan menggendong pemutar musik. Aduh! Mengapa kesenian tradisional yang seharusnya sakral dijadikan alat pencari rejeki semacam ini? Apakah mereka juga menikmati kata “maaf” dari tuan rumah yang tidak memberikan uang yang artinya mereka tidak dihargai baik dari sebagai pencari rejeki (re: ngamen) maupun sebagai kesenian tradisional.

Jaranan mungkin hanya salah satu dari sekian banyak kesenian tradisional yang dijajakan seperti ini. Jika saya menemukan ronggeng di-ngamen-kan, waduh! saya makin terkejut karena saya mengetahui bagaimana prosesi menjadi seorang ronggeng. Seorang ronggeng harus melewati tahap seleksi terlebih dahulu, menjalani ritual-ritual seperti malam bukak klambu, dan ritual lain sebelum akhirnya menjadi seorang ronggeng. Lalu, bagaimana mungkin seorang ronggeng yang sakral harus menjadi kesenian komersil dalam bentuk ngamen seperti yang saya lihat siang ini. Kemana memangnya wadah untuk kesenian tradisional sampai-sampai para pelaku harus turun ke jalan? Ya ampuuun! Saya tidak bisa bayangkan jika nasib Karaban sapi harus turun ke jalan. Gimana caranya sapi diseret dan dipaksa untuk tampil berkali-kali. Berapa sapi yang harus dibawa untuk mementaskan karaban sapi dalam sehari? ckckckc~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s