Did you know you used to be my hero

Sebelum saya berangkat menjalankan rutinitas saya, sebuah lagu terus melantun di kamar yang tak lebih luas dari hati saya. Serangan psikologi sedang terjadi dalam diri saya. Beberapa hari belakangan ini, saya lebih sering menulis di blog tanpa mengharap “banjir komentar” atau menginginkan blog ini menyaingi blog superhebat lainnya. Tulisan-tulisan picisan yang saya buat lebih banyak berisi kejadian sehari-hari, renungan bagi diri saya, dan cerita yang tidak penting bagi orang lain. Tetapi, menulis menjadi salah wadah bagi saya untuk mencurahkan segalanya. Saya tidak mengharapkan tulisan saya menjadi fenomenal dan kontroversioanl. Namun jika itu sampai terjadi, saya siap bertanggung jawab atas semua yang tertulis di sini.

Tanpa bermaksud berkeluh kesah, saya hanya ingin mengutarakan suatu hal di dalam blog ini. Saya tidak pernah menginginkan menjadi seorang yang luar biasa hebatnya. Saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi orang yang paling berpengaruh bagi dunia ini. Saya hanya ingin membuat orang tua saya bangga terhadap diri saya sendiri dengan prestasi saya, dengan lamanya masa studi saya, dengan keterbatasan kemampuan saya, dan dengan segalanya yang saya punya. Saya belum bisa menjadi seorang pemetik gitar handal yang tampil satu panggung dengan musisi pujaan papa saya seperti yang paman saya lakukan. Saya tidak akan pernah bisa lulus S1 dengan tepat waktu meskipun IPK saya sudah cumloude. Saya pun belum bisa mendapatkan beasiswa keluar negeri seperti yang sepupu saya dapatkan. Saya belum bisa lulus S2 seperti yang papa saya banggakan seperti teman/kakak kelas saya yang sudah lulus. Hal ini karena karena saya baru saja menyelesaikan S1 saya.

Belum! Semua belum terjadi, namun PASTI terjadi. Saya tidak berkata saya tidak bisa satu panggung dengan musisi yang papa saya idolakan. Saya juga tidak bilang saya tidak bisa lulus S2 dengan sempurna. Saya bilang “belum” yang artinya masih bisa saya dapatkan. Saya akan selalu berusaha melakukannya semua yang dapat membuat papa saya bangga kepada saya. Saya ingin melihat dan mendengar papa saya membanggakan diri saya seperti yang saya dengar dan saya lihat setiap papa saya menganggumi seseorang (sebut saja Mamang Asep, Kak Yustika, Oom Agung, Papa saya, dan orang hebat lainnya).

Ini adalah serangan psikologi bagi diri saya. Ketika papa saya bertanya kepada saya perihal kabar Kak Tika (kakak kelas yang menjadi panutan bagi saya). Dan betapa bangganya dia mendengar bahwa Kak Tika telah menyelesaikan studinya dengan sempurna (lulus S1 dengan menyandang predikat “mahasiswa terbaik”, lulus S2 tepat waktu, ditambah sudah tercatat sebagai PNS). Saya pun ingin melihat papa saya bangga terhadap diri saya. Mungkin saya tidak mengetahui bahwa papa saya juga bangga pada diri saya. Mungkin di belakang saya, papa saya sering menceritakan betapa hebatnya saya. Terakhir saya dengar papa berkata. “Papa bangga!” itu kira-kira saat saya lulus dalam SPMB. Jauh sebelum itu, saya dengar papa bangga ketika saya memperoleh predikat pesilat terbaik se-DKI Jakarta dalam acara kenaikan tinggat. Tapi kebanggan itu selesai. Selama studi saya sampai sekarang, saya lupa apakah saya pernah membuat papa saya bangga?

Jauh di dalam hati saya, di dalam sanubari saya, saya sangat ingin membuat papa saya bangga tetapi saya belum menemukan hal yang dapat membuat papa saya bangga. Saya selalu menjalani hidup saya seperti saran papa saya. Bukan! Saya bukan tidak punya pendirian dan tidak mampu membuat suatu keputusan. Tetapi saya ingin menjalani hidup saya sesuai saran papa. Bukan! Bukan saya ingin tidak bertanggung jawab atas pilihan saya jika suatu saat pilihan tersebut salah. Saya hanya ingin menjalankan hidup yang dapat membanggakan papa saya selagi papa saya masih dapat melihatnya. Saya berharap semoga umur saya cukup untuk mengejar mimpi-mimpi dan rencana hidup saya setelah menjalankan apa yang ingin saya lakukan agar papa saya bangga kepada saya.

Namun, sejatinya harapan papa adalah kewajiban saya untuk mewujudkannya. Dan semoga umur papa pun cukup untuk berkata “Papa sangat bangga memiliki kau”… Sampai saat ini, papa ingin saya meneruskan pendidikan saya dan menjadi pegawai negeri. Saya pun tetap tidak merasa keberatan untuk mewujudkannya. Ini rencana papa yang menjadi rencana saya juga.

Saya merasa papa saya selalu membandingkan diri saya dengan orang lain yang hebat menurutnya. Saya pun sangsi apakah wisuda nanti akan menjadi ceremony yang membanggakan bagi saya dan papa saya.

Sebuah lirik lagu “Perfect” yang dipopulerkan oleh Simple Plan turut mengiringi terbitnya tulisan ini dan bisa di dengar di sini

Hey Dad look at me. Think back and talk to me
Did I grow up according to plan?
Do you think I’m wasting my time
doing things I wanna do?
But it hurts when you disapprove all along

And now I try hard to make it. I just want to make you proud
I’m never gonna be good enough for you
I can’t pretend that I’m alright
And you can’t change me
‘Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry I can’t be perfect
Now it’s just too late and we can’t go back
I’m sorry I can’t be Perfect
I try not to think about the pain I feel inside
Did you know you used to be my hero?
All the days you spent with me
Now seem so far away
And it feels like you don’t care anymore

And now I try hard to make it
I just want to make you proud
I’m never gonna be good enough for you
I can’t stand another fight and nothing’ alright
‘Cuz we lost it all. Nothing lasts forever
I’m sorry I can’t be Perfect
Now it’s just too late
And we can’t go back
I’m sorry I can’t be Perfect

Nothing’s gonna change the things that you said
Nothing’s gonna make this right again
Please don’t turn your back
I can’t believe it’s hard
just to talk to you but you don’t understand
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s