Wanna go public? Think twice!

Jumat siang ini saya menghadiri sebuah acara bedah buku salah satu sahabat saya: seorang penulis baru dengan karya baru. Saya yakin, teman saya, Pipit (bukan nama sebenarnya), memiliki banyak tulisan yang tidak diterbitkan. Keyakinan itu muncul dari kesehariannya yang saya amati. Pipit adalah sahabat yang banyak membaca buku, kritis, seorang aktivis. cerdas, dan religius. Dapat dibayangkan apa isi kepala seorang yang banyak membaca disertai dengan kecerdasan, sikap kritis, religius, namun tidak pernah merasa berada di atas angin dan memamerkan kelebihannya di depan umum. Pipit juga tidak merasa dirinya lebih pintar dan memandang semua orang itu memiliki kemampuan yang sama. Bagi saya, Pipit seperti seorang Panglima perang yang sedang menyusun strategi perang secara sembunyi-sembunyi dan tidak memamerkan senjata ke hadapan musuh.

Sesekali saya pernah terlibat pada diskusinya dengan teman saya yang lain, Agil (bukan nama sebenarnya). Banyak dari diskusi mereka yang membuat otak saya berpikir keras lebih dari biasanya. Saya harus mengingat banyak hal seperti nama-nama orang yang terlibat dalam diskusi mereka dan ciri khasnya, kaitan orang yang dibicarakan dengan topik pembicaraan, hubungan orang yang dibicarakan dengan Agil dan Pipit, dan teori-teori yang kadang nyelip diantara pembicaraan mereka. Meskipun yang saya lakukan itu lebih banyak diam dan mencerna (sampai akhirnya ‘ketinggalan’), saya senang berada diantara mereka. Seakan-akan pengetahuan saya ditambah secara tidak langsung. Salah satu cerita yang saya ingat adalah bagaimana cara belajar ‘teman-teman baru mereka’.

Dalam bedah buku tersebut, Pipit menceritakan bagaimana proses kreatifnya menulis sebuah karya fiksi, bagaimana perasaannya ketika banyak hal yang tidak ia sukai dari proses editing sampai naik cetak, dan bagaimana tanggapan pembaca yang hadir terhadap karyanya. Jujur, saya belum sempat membaca novelnya. Selain karena menunggu novel gratis dari sang Penulis, saya pun belum sempat ke toko buku untuk melihat buku sahabat saya itu berada diantara buku-buku yang ada di sana. Tetapi, satu hal yang saya yakini, sahabat saya itu pasti akan menjadi orang besar nantinya karena Pipit adalah sahabat saya yang terus mau belajar dan tidak mengenal kata menyerah.

Saya pernah mengkritik sebuah film karya teman saya di salah satu ormawa kampus. Saat saya bertanya mengapa sampai terjadi hal-hal yang tidak enak di mata saya sebagai penonton awam, para crew yang terlibat dalam produksi film yang saya komentari menjelaskan mengenai keterbatasan saat produksi berlangsung. Dan, dengan kejamnya saya berkata:

sebagai penonton, saya tidak mau tahu keterbatasan saat produksi. Itu urusan kalian sebagai pembuat film. Yang saya tahu, ini film yang akan saya tonton. Memangnya ada, dalam setiap pemutaran film komersil, orang-orang di balik layar menjelaskan keterbatasan mereka saat produksi. Buatlah film yang ‘layak’ buat ditonton. Jangan sampai muncul tokoh yang perubahan wataknya tidak masuk akal, gesture yang mengganggu, continuitas yang acak-acakan, dan artistik yang tidak teratur.

Jika saya mengingat dengan jelas setiap kata yang saya ucapkan, mungkin akan lebih pedas dari yang saya tuliskan. Hal seperti ini juga saya saksikan sendiri dalam bedah novel sahabat saya itu, Pipit. Banyak kritik pedas yang muncul dari para penonton, namun tak sedikit pula pujian yang terlontar. Dan saya tetap diam di tempat duduk tanpa dapat berkata apa-apa karena saya belum membaca novel sahabat saya itu (aduh! sahabat macam apa saya ini!!). Saya memperhatikan jalannya acara tersebut dan banyak mengambil manfaat dari pengalaman orang lain.

Pipit dan para sineas muda melahirkan pemikiran di kepala saya bahwa setiap orang yang muncul di masyarakat atau istilah yang lebih enak go public harus siap menerima opini publik, baik yang pro maupun yang kontra. Harus siap ketika muncul seonggok manusia yang cuma bisa kritik, protes, sementara dirinya sendiri tidak melakukan hal nyata berdasarkan yang ia katakan. Seperti seorang pengendara motor yang setiap hari mengeluh macet sementara dirinya mengendarai motornya dengan tidak tertib sehingga menimbulkan kemacetan. Atau seperti salah seorang yang saya temui di jalan sedang membuang sampah plastik sembarangan padahal ia berpakaian muslim (baju koko, sarung, dan mengenakan peci), sangat bertolak belakang dengan ajaran yang ia terima bahwa “kebersihan sebagian dari iman”. Banyak lagi contoh-contoh manusia yang seharusnya melakukan refleksi terhadap diri sendiri sebelum mengkritik orang lain. *jlebh! saya kena peluru sendiri* Ga mau munafik, mungkin saya salah satu dari orang yang bisanya cuma omdo meskipun hal tersebut terjadi tanpa saya sadari.

Saya memang bukan manusia super yang mampu membuat film, saya hanya ditugaskan mengkritik (hahaha). Apakah saya siap, jika suatu saat go public dan menerima berbagai opini publik yang beragam bahkan sampai menimbulkan kontroveris? Semoga saya termasuk manusia yang berkepala dingin dan berlapang dada. Jika saya tidak siap dengan komentar masyarakat, saya harus pikirkan dua kali untuk membuat sesuatu yang saya punya menjadi konsumsi publik. Tapi, apa yang hendak saya buat ya.. haha..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s