Curhat colongan lagi… curhat colongan lagi…

Kemarin, saya menemani kawan-kawan saya yang punya hajat di Bandung. Ada yang untuk nemenin pacar ngurusin bisnis, nemenin temennya pacar buat ketemu pacarnya (gitu deh), bahkan hanya untuk meminta saya untuk mencicipi yoghurt yang rasanya bener-bener ‘hurt’ (hahaha) . Kami berangkat memang agak siang, dan tidak heran jika saya tiba di rumah sudah sangat larut malam.

Eh, bukan, bukan itu yang ingin saya ceritakan.

Begini. Sekitar pukul 18.30 kami berhenti di tempat peristirahatan. Niat awalnya, saya ingin pipis. Tapi teman saya Iman (bukan nama sebenarnya tetapi memang dia adalah lelaki yang beriman) menyarankan agar sekalian sholat Magrib. Saya menuju tempat solat. Dan, WOW, tempat sholat masih menjadi tempat yang ramai dengan antrian wudhu yang panjang.

Saya tidak terlalu paham soal agama. Dengan kemampuan saya yang dangkal, saya memutuskan untuk menunda solat hingga waktu Isya. Tetapi Iman tetap memaksa saya untuk solat saat itu juga (sepertinya Iman akan menjadi imam yang baik bagi perempuan yang akan dijadikan makmumnya). Setengah males setengah engga saya ikut dalam antrian wudhu dan antrian solat.

Ini masalahnya. Setiap tempat yang saya singgahi untuk ‘numpang’ solat selalu terjadi diskriminasi terhadap sederetan perempuan. Agama memang tidak bisa dibenturkan oleh keadilan antara laki-laki dan perempuan karena pada dasarnya agama itu memang patriarki. Dan agama tidak bisa dikompromikan karena agama adalah hukum. Tetapi, saya tidak mengerti mengapa manusia selalu menyediakan tempat solat untuk perempuan dengan space yang lebih kecil dari laki-laki? Bukankah setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki hak yang sama untuk beribadah.

Oh, mungkin perempuan punya ‘cuti’ sehingga tempat solatnya kecil

Praduga super amatir saya mengantarkan pada alasan yang saya rumuskan sendiri. Menjadi perempuan itu kenapa ribet ya? Saya tidak bisa pergi tanpa membawa tas karena dalam tas itu berisi mukena dan perabotan lenong lainnya. Sementara laki-laki bisa jalan hanya dengan mengantongi dompet (dengan uang yang mencukupi, tentunya.. hahahaha).

Seorang isteri juga selalu repot menyiapkan susu, baju ganti, dan perabotan bayi jika ingin membawa anaknya berpergian. Sementara suami berteriak, “Ma, cepetan. Lama amat!”.. Sang istri menyandang dua buah tas. Tas untuk anaknya dan tas untuk dirinya sendiri. Ini hanya pengamatan amatir saya terhadap pasangan suami-istri yang memiliki anak bayi. Istri juga harus mendengarkan kata-kata suami. Tetapi apakah suara istri didengar suami? (hayooo~ para suami. gimana nih jawabannya?). Istri itu kan teman, kawan, bagian. Isteri bukan sesuatu objek untuk dikuasai? Bukan begitu? Begitu bukan?

Kelihatannya menjadi perempuan itu ribet. Tapi saya senang menjadi seorang perempuan. Saya lebih cerdik dan gesit dari laki-laki karena harus memperhitungkan segala hal karena saya bagian dari lingkungan publik dan lingkungan privat. Menjalankan kewajiban yang vertikal sebagai perempuan dan sebagai bagian dari masyarakat, serta kewajiban yang horizontal. Saya siap dengan beban ganda. Saya tidak ingin melebihi laki-laki. Saya hanya ingin memperoleh hak yang sama dengan laki-laki. Kelak, jika saya menjadi seorang isteri, saya akan menjadi isteri yang baik, ibu yang baik, perempuan karir yang baik.

Agama memang tidak bisa dipertentangkan ya. Harga mati. Haha.. pendapat sepihak dari perpektif perempuan. Mungkin laki-laki juga memiliki keribetan sendiri.

Advertisements

4 thoughts on “Curhat colongan lagi… curhat colongan lagi…

  1. tempat sholatnya lebih kecil, karena kan perempuan gak wajib sholat di masjid dan langgar atau mushola. yang wajib itu kan pria. nah mungkin metode di masjid – masjid besar itu menjadi semacam contoh da buat mushola – mushola yang ada di pemberhentian perjalanan.

    kita tidak sama dengan pria, kita lebih di mulia kan kok Da,
    🙂

    • eeh, ada calon psikolog berjilbab hitam. hehe
      Kalo lagi dalam perjalanan piye tho kak?
      Solat kan wajib juga. Tapi space perempuan selalu lebih kecil. Kalo perempuan selalu dikesampingkan, maka hak asasi perempuan bisa bias. ah, gitu deh. Pokoknya “hidup kesetaraan!!”
      =P

      • mushola yang ada di pom bensin atau tempat istirahat itu loh. mereka meniru model masjid – masjid besar. kan masjid – masjid besar itu space buat perempuan nya kecil (dengan alasan yang sudah disebutkan di atas)
        mereka tidak mempertimbangkan kalau dalam perjalanan, perempuan dan pria sama – sama butuh tempat buat sholat

        kita tuh sudah dimuliakan da. ndak usah di sama in lah.
        hahahhahahahaha…
        udah ah. sok tahu gw keluar kan

      • jadi klo ga solat ga apa2.. hahahaha
        *keblinger*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s