Amatir belajar fotografi

Biasanya, jika saya tidak bisa tidur, yang saya lakukan hanya menatap sekeliling kamar. Meskipun kamar ini sudah cukup akrab, saya tetap menelusuri setiap senti langit-langitnya hanya untuk mencari kesibukan karena mata tidak kunjung terpejam. Tetapi malam ini saya merasa lebih bermanfaat. Bukan karena bisa menulis tengah malam hingga mata bisa terpejam, tetapi karena seorang kawan saya bernama RAVEN mengajarkan dasar-dasar ilmu fotografi. Saya hanya seorang amatir yang pelupa. Oleh sebab itu, saya ingin menuliskannya di blog ini agar jika saya lupa, saya bisa melihatnya. Dan mungkin berguna untuk para pemula.

Kata teman saya, ada tiga hal yang harus saya pelajari malam ini, yaitu ISO, speed, dan fokus. Dengan baik hati dan sabar, lewat fasilitas chatting, teman saya itu menjelaskan kepada saya satu persatu.

1. ISO itu saya bahasakan sebagai pengatur cahaya. Angka ISO ada 100, 200, 400, 800, 1600, hi1, dan hi2. Semakin tinggi ISO-nya semakin sensitif cahayanya. Kasusnya beda kalo ISO-nya gede tapi cahayanya ga begitu banyak. ISO akan bekerja untuk memasukkan cahaya lebih banyak. Jadi cahaya ‘dipaksa’ masuk buat menerangi objek. Ga begitu keliatan sih, tp klo di zoom, jadinya ada biru-biru atau merah-merah. Kata temen saya, noise. Intinya, sensor/ISO dipaksa berkerja berlebihan supaya nangkep cahaya sekecil apapun.. hasilnya noise..

Saya coba foto kabel di kamar saya dengan menggunakan ISO 1600. Cahaya kamar saya tidak begitu terang. Hasil gambar memang terlihat baik-baik saja. Tapi begitu di zoom maksimal, ada bercak-bercak. Itu yang namanya noise. Nih gambarnya. Saya disuruh mengambil objek yang ada warna hitamnya supaya keliatan jelas bercak-bercak bukti noise.


2. RAVEN mengajarkan saya soal SPEED. Sesuai namanya, speed adalah kecepatan. Saya mencoba mengingat sebuah artikel yang saya baca soal teknik freeze (saya lupa bagaimana menuliskannya). Dia meminta saya untuk memindahkan mode ke huruf “S”, salah satu huruf yang ada di PSAM. Ada angka 1/100 yang artinya 1/100 detik. Saya coba jepret objek bergerak yaitu tangan yang saya gerak-gerakan secara cepat. Hasilnya, gelap total kaya mati lampu. Dia meminta saya menuruankan angka fokus. Caranya, tekan yang ada di sebelah tombol buat moto (yang ada +/-) terus geser-geser rodanya. Begitu juga caranya untuk mengatur kecepatan, tetapi tanpa menekan tombol yang ada +/-. Hasilnya tetap gelap tapi objek masih terlihat.

Katanya, semakin cepat kecepatan fotonya, cahaya yang ditangkep makin sedikit, oleh karena itu angka f-nya harus kecil. (nanti dijelaskan soal angka f). Angka f yang kecil itu menandakan cahaya yang masuk semakin banyak. Tapi saya ga pake blitz karena ga boleh dulu. Hasil gambarnya begini:

teknik freeze tanpa blits dulu

Gambar tersebut saya ambil dengan speed 1/50 dengan fokus 4.8.. Gerakan tangan saya tidak terlalu cepat. Jadi, kalo gerakan objek cepat, kan speednya harus tinggi supaya keambil tuh gambarnya. Angka f-nya harus rendah supaya cahaya yang masuk jadi banyak. Masih ga keliatan? Tambah blits.


3. Teknik terakhir sebagai penutup chatting saya dengan RAVEN, saya diajarkan soal fokus. Katanya, ini agak rumit. Harus hapal ini nih..

Jika angka f gede, maka jendela yang kebuka kecil. Kalo jendelanya kebuka cuma kecil, maka cahaya yang masuk makin sedikit. (layaknya jendela)

Jika angka f kecil, maka jendela yang kebuka gede. Kalo jendela kebukanya gede, maka cahaya yang masuk juga jadi banyak.

Jadi, kesimpulan saya, kalo mau moto tapi ga terlalu terang, f-nya di kecilin.

Dalam urusan atur-atur fokus ini, RAVEN ngajarin soal teknik “ruang tajam”. Dia menyuruh saya men-zoom out maksimal lensa. Dan meletakkan ke tempat yang stabil. Di depan kamera, saya letakkan sebuah objek yang berjakar sekitar 30 cm dari lensa. Di belakangnya banyak buku-buku saya yang berantakan. Saya disuruh untuk mengatur f jadi 1/16… “Jep……ret”, cukup memakan waktu yang lama. Dan hasilnya seperti ini

speed: 15 dengan f:16

Gambar itu belakanganya jelas kan? tumpukan buku di meja darurat gitu deh. Tapi nunggu hasil jepretannya lama. Kameran juga ga boleh goyang. Coba bandingin sama kembarannya yang satu lagi.

 

 

 

 

 


ini fokusnya 1/3.5

Gambar ini buku di meja daruratnya agak ngeblur kan ya? Padahal angka f-nya cuma 3,5.. Seharusnya, prinsip fokus kalo angka kecil malah makin terang.

Ternyata ada satu teknik yang namanya ‘ruang tajam’

itu efek ‘ruang tajam’
makin kecil jendelanya, ruang tajam nya makin luas
kalo ruang tajamnya luas, yg kena fokus juga lebih banyak (luas).
Biar lebih keliatan kontras bedanya, nih buka link ini.
Begitu kata teman saya. Jadi, kalo objek belakangnya banyak (misalnya manusia-manusia narsis yang minta dipoto), pake f-nya yang gede biar ‘jelas’nya luas. Tapi jangan ampe goyang dan bergerak. itu lah gunanya tripot. hehe. Kalo pake f-nya kecil, nanti si A yang di deket lensa mukanya jelas, yang di belakangnya mukanya burem.

Jadi, kalo mo moto mobil dari atas yang lampu-lampunya jadi garis, harus pake apa hayoooo?
bener ga ya kalo speed-nya turunin, fokusnya  disesuaikan sama cahaya (bisanya klo dijalan malem kan terang tuh berarti f-nya harus kecil supaya cahayanya banyak), terus kudu pake tripot.
(tadi udah dijelasin, tapi saya lupa. Jadi sengaja saya lempar deh.. hehe)
Sekian dulu kata raven untuk ilmu dasar yang harus saya eksplore..
Semoga bermanfaat. Setidaknya buat saya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s