Dilema: terbitkan atau tidak

Perkenalkan, nama saya didakochan. Saya nyaris tidak tahu cara mencairkan suasana pada awal perjumpaan. Tetapi hal ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan cerita petualangan yang akan saya buat.

Pagi ini, saya berada diantara dua orang yang sedang berdialog dalam perjalanan. Sejak masuk pintu tol hingga tiba di tujuan. Isi dialog cenderung dengan topik yang sama yaitu agama dan sekitarnya. Saya hanya menyimak dan berkomentar dalam hati. Kemudian, melalui blog ini, tanpa mengharap banjir komentar atau blog saya akan di block, saya akan memberitahu isi hati saya saat itu.

Saya tidak terlalu paham soal agama meskipun saya sudah dibekali ilmu agama sejak kecil. Yang saya tahu, agama mengajarkan saya untuk beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjalankan segala perintahNya dan menjauhi apa yang dilarangNya. Saya seorang umat yang masih belajar, dan mungkin salah satu dari pembaca lebih paham soal keislaman.

Kembali kepersoalan dialog diantara dua orang. Mereka berbicara tentang banyak hal. Seingat saya, mereka berdiskusi tentang perkumpulan agama dengan jemaah cukup banyak, kemudian berdiskusi tentang pemimpin agama yang namanya sangat asing bagi saya, lalu tentang aliran-aliran yang kita kenal sekarang. Salah satu dari mereka menyebutkan bahwa dirinya adalah pemeluk agama dari salah satu faham, dan lawan merupakan pemeluk agama dari faham yang sama. Saya masih diam diantara dua orang yang sedang asik berdiskusi.

Awalnya, saya sudah menulis banyak hal. Tetapi saya berpikir ulang untuk menerbitkannya. Akhirnya saya hanya menuliskan beberapa hal untuk menghindari banyak hal. (haha)

jika ada orang yang menanyakan agama saya, saya akan menjawab saya muslim, saya islam. Meskipun ibadah dan keimanan saya masih dalam tahap penyempurnaan. Jika orang tersebut bertanya lagi, saya islam dari faham mana? saya akan menjawab, saya islam. Islam ya islam. Islam yang menjalankan 5 rukun islam dan mempercayai 6 rukun iman. Islam yang meyakini bahwa Nabi Muhammad S.A.W adalah Nabi terakhir yang diutus oleh Allah. Islam yang memilki dasar hukum dari Al-Qur’an dan Hadits.

Kemudian saya merenung, ilmu saya mungkin terlalu dangkal untuk mengomentari banyak hal yang saya tidak ketahui. Apa selama ini seharusnya saya aktif seperti para jemaah untuk menghadiri acara-acara religius? Sebenarnya, saya harus menjadi umat yang seperti apa? Kontribusi seperti apa yang seharusnya saya berikan kepada ‘keyakinan’ saya?

Sebuah lagu yang saya renungi sebelum tidur: jika surga dan neraka tak pernah ada, masihklah kau bersujud kepadaNya?

Advertisements

2 thoughts on “Dilema: terbitkan atau tidak

  1. hahahahhaha.. tahu gak siiih pertanyaan agama kamu apa di kampus ku yang dulu merupakan salah satu pertanyaan usil banget,
    alias gak penting.
    itu kan hubungan pribadi kita sama Tuhan kita.
    benar – benar personal. sama kek pertanyaan; masih virgin gak.

    idiiih banget kan jawab pertanyaan – pertanyaan kek gitu.
    serius deh.
    dari dulu kuping ku suka gateel denger pertanyaan tentang agama.
    yah kecuali itu dalam konteks diskusi mengenai pengetahuan agama. dan ada ruang untuk mendiskusikan itu.

    *clingak clinguk: komen gw nyambung gak sih?*

    • iya banget.. pertanyaan-pertanyaan personal yang ga musti diulang-ulang cuma buat dapetin jawaban seperti yang penanya harapkan…
      Mba ais kan muslim,klo ditanya agamanya apa pasti jawabnya islam.. tiba-tiba pertanyaannya meningkat, “islam apa?”
      laaah, islam mah islam..kagak ada islam apa-apa.
      *keliatan banget ini curhat colongan hahaha*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s