Nobody’s Perfect: Belum Ada Judul

Judul dari tulisan ini membuat saya teringat pada tulisan di belakang kendaraan umum. Tapi bukan itu yang ingin saya tuliskan sekarang. Judul itu dibuat karena saya memang tidak punya ide untuk memberi judul pada tulisan ini. Hal ini pun terjadi ketika saya magang di sebuah jurnal. Pada setiap berita yang saya kirim tidak pernah saya sertakan judul sehingga pemred menegur saya untuk selalu menyertakan judul pada tulisan saya. Meskipun tidak jarang judul saya tersebut di’permak’ atau tidak digunakan sama sekali. hahaha. (mulai ngelantur)

Dalam berbisnis dibutuhkan keseriusan. Setuju? Saya pribadi setuju dengan kalimat saya sendiri. Sore ini saya batal melakukan ritual menjempiut ibu tercinta. Tapi saya sudah terlanjut membuat janji dengan seseorang untuk menyebarkan brosur sebuah produk bisnisnya. Oke! Saya bantu pacar saya melanggengkan bisnis es krim gorengnya. Jadi, tujuan saya keluar rumah sore ini hanya satu, yaitu menyebarkan brosur. Dengan mengendarai si hitam, saya membelah kota Bekasi yang masih becek menuju Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, banyak sekali yang mengecewakan. Diantaranya, brosur yang belum berbentuk brosur (saya sebut sebagai brosur darurat), pembatalan acara pembagian brosur, dan konfirmasi perpindahan lokasi meeting yang berubah pada saat saya tidak dapat membaca pesan di ponsel saya (tangan kanan megang gas, tangan kirinya ngupil). Ketiga hal ini sempat membuat emosi. Tapi, saya mencoba diam menyembunyikan amarah. Sambil sesekali menghela nafas dan memaksa tertawa.

Seseorang itu mengatakan, “besok juga bisa”. Astagaaa! Bagi saya pribadi. untuk sebuah bisnis tidak ada kata ‘menunda’, kecuali menunda untuk ‘menunda’. Waktu dan kesempatan itu seiring sejalan dan selalu berpacu. Tapi, saya tidak bisa memaksakan pemikiran saya kepada seseorang itu sebab dia juga pasti memiliki pemikiran dan strategi sendiri. Lagi pula, bukan kapasitas saya untuk mengatur dan mempengaruhi pikiran seseorang tersebut.

Menurut saya sebagai pengamat awam, bisnis harus niat, total, serius! Yang utama memang niat. Dari niat tersebut muncul sebuah keseriusan. Serius menjalankan strategi pemasaran, serius dalam melakukan pemasaran, serius dalam melakukan pengembangan, dan serius dalam segala proses yang terdapat di dalamnya. Tapi, apakah saya pun bisa menjalankan sebuah bisnis dengan serius? Hahaha..

Tapi, pertemuan hari ini ditutup dengan makan malam dalam suasana akrab yang membuat perjalanan panjang saya tidak terlalu sia-sia.

Saya didakochan, perempuan yang menerjang beceknya Bekasi menuju Jakarta sore ini, untuk sebuah janji yang kesekian kalinya tak terpenuhi. Saya didakochan, perempuan yang menahan emosi sore ini, tetap sabar dan memaklumi semua peristiwa yang terjadi. Saya didakochan, selamat malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s