Mati air hari ini

Sewaktu saya duduk di bangku sekolah dasar (sungguh! Saya pernah SD juga loh!), tertulis dalam pelajaran IPA bahwa air adalah sumber kehidupan. Awalnya saya agak ragu, mengapa harus air? Mengapa tidak udara atau matahari? Manusia kan memerlukan udara untuk bernafas . Sedangkan matahari dibutuhkan tanaman untuk berfotosintesis. Matahari juga dibutuhkan para ibu-ibu kompleks pada musim tanggung bulan (ngaco!). Dikatakan lagi bahwa sebagian besar tubuh manusia terdiri dari cairan.

Pertanyaan saya di zaman SD dijawab oleh kejadian hari ini. Air di rumah meninggal alias mati total alias modar kabeh sejak pukul 5 dini hari tanpa pemberitahuan sebelumnya oleh pihak yang berwenang. Sejak saat itu, telah diresmikan peraturan insidental bahwa pada hari ini, semua penghuni rumah harus meliburkan kegiatan cuci-mencuci (mencuci rambut, mencuci baju, mencuci piring) kecuali mencuci nama baik (kriiik..kriiik..kriiiik…).

Ketika hujan deras turun di siang hari, saya dan si Mbak masih mengira-ngira bahwa air akan mengalir pada sore hari sehingga hujan AIR yang deras itu tidak kami tampung untuk keadaan super darurat. Namun, dugaan kami meleset. Air tak kunjung mengalir hingga tulisan ini diposting. Yup! Hampir tengah malam. Bagaimana jadinya kalau nanti ada anggota keluarga yang mendadak harus memenuhi panggilan alam sementara persedian air semakin menipis. Kalau hal itu sampai terjadi pada saya, saya akan nekat menuangkan air di galon ke dalam ember demi menuntaskan tugas mulia (hahahahaha)

Rasa haus pun mulai melanda. Saya menahan untuk minum air terlalu banyak. Mengingat metabolisme tubuh yang pasti pipis setelah minum banyak (apaaaa coba). Ternyata, air memang penting bagi kehidupan. Saya bisa menahan lapar 2-3 hari, tetapi saya tidak tahan menahan haus lebih dari 20 jam! Kasihan adik, papa, mama, dan si Mbak yang pulang dari beraktivitas di luar rumah tapi tidur dalam keadaan tidak mandi. Betapa lengketnya badan mereka.

Subuh nanti, saya harus segera meluncur ke rumah saudara saya yang jaraknya cukup jauh. Menurut informasi, di sana air tetap mengalir dengan lancar (selancar bab saya akhir-akhir ini). Tayamum memang dibolehkan, tapi kalau tidak ada air. Selama saya masih memikirkan bahwa ada air, maka saya memutuskan untuk tidak tayamum. Lebih enak wudhu pake air. Kalo mandi, boleh lah tayamum. Hahaha…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s