Pada Sebuah Pertemuan

Saya ingin menulis karena saya ingin. Jika sudah ingin, maka tidak perlu alasan lain selain ingin untuk melakukannya. Bener kan? Meskipun tanpa alasan yang kuat, sebuah keinginan (nyaris dikatakan) sering saya lakukan. Bahkan terkadang keinginan itu tidak sesuai kebutuhan. Seperti keinginan saya waktu ingin masuk jurusan astronomi. Tidak ada alasan logis dan pemikiran yang mendalam. Saya-hanya-ingin berkuliah di jurusan astronomi. Dan keinginan itu tidak terlaksana. Sebab, memang tidak semua keinginan dapat dilakukan.

Hari ini adalah hari pengalaman pertama saya bertemu dengan seseorang yang selama ini hanya saya kenal melalui dunia maya. Sebelumnya memang saya sudah cukup sering bertemu dengan orang yang belum bertemu sebelumnya, namun dalam urusan seperti mewawancara narasumber atau interview kerja. Tujuan saya bertemu seseorang kali ini adalah hanya karena saya ingin bertemu dengan kakak kelas teman lama ini. Ada beberapa kesempatan yang saya buat agar bertemu dengan teman saya ini tapi selalu tidak terlaksana. Salah satu penyebab mengapa pertemuan itu belum dapat dilangsungkan adalah tempat. Ketika saya berniat ingin bertemu dia di kotanya sementara dia sedang ada di Jakarta (pengen nyebut ‘kota saya’ nih Kak hahaha), ada juga ketika dia di Jakarta saya sedang berada di kotanya.

Saya hampir tidak ingat bagaimana saya dan Kak Ais bisa berkenalan sebagai teman pertama kali. Saya mengenal Kak Ais karena sebuah peristiwa yang menjadi penghubung antara saya dengan Kak Ais. Kami sempat bersiteru hanya karena masalah klise seputar anak remaja laaaah yang kalo saya inget malah bikin saya cengar-cengir sendiri. Dan ternyata, proses pendewasaan membuat saya (dan mungkin juga kamu) telah menanamkan di pikiran saya bahwa pertemanan dengan tulus itu menyenangkan. Apa itu dengan tulus? Berteman karena saya ingin berteman dengan seseorang, tanpa ada motivasi yang aneh-aneh.

Honestly, Kak Ais pernah menjadi ‘kiblat’ saya. Kenapa? Karena pada suatu saat saya pernah meminta nasihat ke Kak Ais tentang perempuan yang punya konflik dengan saya. Saya suka karena pemikirannya yang selangkah lebih dewasa dari saya. (Jangan tanya saya tentang peristiwa ini, saya sudah lupa. Sungguh!). Sampai pada akhirnya, hubungan saya dengan perempuan ini pun sudah baik-baik saja. Sepertinya saya pernah nulis (dalam cerita dan format yang berbeda) kalo saya memang kagum dalam beberapa hal dengan mahasiswa UGM yang satu ini.

Saya dan teman saya Ega menuju tempat yang kami janjikan. Ega ikut bukan karena saya takut ketemu Kak Ais, tapi karena kami ngajar ngelatih di tempat yang sama dan Ega tidak ada kegiatan lagi (Eh, Ega ada ngajar lagi jam 4 tapi kerena Ega nyaman dan ingin tetap berada di sana, ia memutuskan untuk meng-cancel jadwalnya). Sebelumnya saya memang tidak mengizinkan dia ikut, tapi karena ada satu personil lagi dalam pertemuan nanti, saya pun mengubah rencana saya untuk mengizinkan Ega mengintil pertemuan kali ini. “Ga, jadi ikut ga lo?”, kira-kira seperti ini lah bunyi ajakan saya ke Ega. Simple kan? Dan Ega pun ikut karena dia ingin ikut.

Seperti pertemuan dengan teman pada umumnya (tanpa ada rasa mati gaya hahaha), kami pun memenuhi janji kami untuk makan siang. Biasanya saya suka canggung kalo ketemu orang baru apa lagi pertemuan kali ini. Saya suka jadi pendiem mendadak. Lagi pula memang kami sudah saling mengenal cukup lama, dalam arti kata saya tahu kak ais dan kak ais tahu saya. Dan juga sudah cukup sering kami berbincang di dunia maya. Rasa canggung juga sirna karena saya (dan mungkin Ega dan Kak Ais) membangun atmosfer yang hangat agar memberi kenyamanan ke personil yang lain, termasuk ke Mbak Putri, yang sebenernya adalah temen Kak Ais. Bahkan saya sempet nga-nga denger Mbak Putri cerita.

Satu-satunya perasaan ‘tidak biasa’ yang biasanya muncul jika bertemu dengan orang yang belum pernah bertemu sebelumnya meskipun sudah kenal di dunia maya adalah heran. Heran karena sinyal di HP saya hanya SOS! SOS! SOS! Sengaja saya ulang tiga kali karena HP yang satu provider dengan milik saya memiliki sinyal yang cukup baik. Tapi, saya tidak berniat berpindah provider.

Banyak pilihan hidup yang kalo ditanya hanya dijawab dengan kata “pengen aja”. Sejak kapan kata ‘ingin’ diucapkan menjadi ‘pengen’? Kenapa orang mengatakan ‘pengen’ dari pada ‘ingin’? Beberapa jawabannya adalah karena kebiasaan, karena lebih enak diucapkan, dan jawaban-jawaban lainnya yang mungkin ada juga yang menjawab karena ingin.

Advertisements

One thought on “Pada Sebuah Pertemuan

  1. harusnya membiasakan yang benar bukan membenarkan yang biasa yah da? itu kata temen ku sihh.

    Kami sempat bersiteru hanya karena masalah klise seputar anak remaja laaaah yang kalo saya inget malah bikin saya cengar-cengir sendiri. Dan ternyata, proses pendewasaan membuat saya (dan mungkin juga kamu) telah menanamkan di pikiran saya bahwa pertemanan dengan tulus itu menyenangkan.

    *nyengir* hehehehhehee. kalau di inget sekarang konyol da. tapi beruntunglah kita berproses bersama untuk bisa mengesampingkan masalah itu. dan entah ke depan kita akan berkonflik lagi atau gemanah (mau nya sih enggak). tapi sekarang cuman pengen bilang ; terimakasih untuk pertemanan tulus kita kali ini. walaupuun… yang abadi itu cuman nama toko emas di dunia ini. hahahhahahaa…

    jangan kapok yeee..

    😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s