Pengalaman Baru

Saya mendapat tanggung jawab baru yaitu melatih anak SD untuk mendongeng dan mempersiapkannya untuk lomba awal April nanti. Tapi sampai sekarang petunjuk teknis dan pelaksanaan belum juga saya pegang. Saya tidak tahu jenis dongeng seperti apa yang akan dilombakan dan bagaimana prosedurnya. Dongeng dipersiapkan dari panitia atau harus mencari dongeng sendiri. Alhasil latihan yang kami jalani agak pincang karena saya hanya mengajarkan soal mimik, ekspresi, intonasi, dan tempo.

Ternyata, saya berbakat menjadi seorang pengajar (hahahaha *ketawa bangga*). Begitu kata salah satu rekan kerja saya. Dia juga mengatakan bahwa saya memiliki cara yang bagus. Padahal saya hanya menjalankan apa yang menyenangkan bagi saya tapi menyenangkan juga bagi siswa saya, dan juga tidak ‘keluar jalur’. Sebelumnya saya sering kali mengatakan bahwa saya tidak dapat mengajar.

Siswa saya yang hanya empat orang itu, saya berikan tugas untuk mendalami karakter di dalam cerita, kemudian saya perintahkan untuk membacakan dongeng dan teman-teman yang lain menceritakannya kembali dalam bentuk tulisan. Hal ini saya maksudkan agar siswa mampu menyampaikan cerita kepada orang lain dan membawakannya dengan baik agar orang lain memahami isi ceritanya. Selain itu, kegiatan ini juga membantu siswa melatih kemampuan menyimaknya. Kata teman saya, ide saya ini sangat bagus.

Tapi, pelaksanaannya tidak semulus seperti yang saya ceritakan (hahaha). Ada siswa yang tidak menyimak, ada yang lari ke sana-ke mari, ada yang membantu temannya menceritakan kembali. Nah, yang seperti ini yang tidak bisa saya handle. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk membuat anak-anak ini fokus. Tapi, rekan saya mampu melakukannya. Dia dapat ‘menaklukkan’ anak-anak yang tidak berada pada aturan.

Saya bukan seorang sarjana pendidikan. Cita-cita saya bukan menjadi seorang guru (meskipun sewaktu saya kecil, saya pernah punya cita-cita ingin menjadi seorang guru). Cita-cita saya adalah menjadi seorang dokter atau wartawan. Tetapi, sudah dua kesempatan yang saya jalani menunjukkan bahwa saya memiliki bakat dan kreativitas untuk membuat suasana belajar menjadi menyenangkan. Hmmmm *mikir*, saya lebih cocok menjadi guru untuk anak usia 5-12 tahun.

Tapi tetap, tidak ada keinginan untuk menjadikan guru sebagai profesi utama saya. Bukan berarti saya akan menolak jika ada tawaran menjadi seorang guru (rejeki meeen!). Tapi saya merasa diri saya belum mampu menyampaikan ilmu, belum mampu deh pokoknya! hehe.

(foto-foto dengan siswa saya menyusul ya.. hehe)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s