Cemburu dan sebuah pernikahan

Sebenarnya, banyak yang ingin saya tulis saat tidak berhadapan dengan koneksi dan layar ini tentang hari-hari yang saya lalui. Saya menemui banyak hal saat saya mengendarai kendaraan kesayangan saya, Si Daniella. Tentu saja, saya tidak langsung menuliskannya saat itu juga sebelum ide-ide di kepala saya menghilang. Saya juga tidak menuliskannya saat tiba ditujuan karena saya langsung dihadapkan dengan beragam aktivitas yang selalu berganti setiap harinya.

Salah satu hal yang belum sempat saya tulis adalah kekesalan saya terhadap kemacetan yang diakibatkan oleh angkutan umum yang tidak tertib, pengalaman saya diserempet polisi, dan segala macam yang saya sendiri sudah lupa. Hal ini pun tidak akan saya tuliskan kali ini.

Saya sedang terlibat sebuah produksi video pembelajaran seorang kawan saya. Kawan saya itu punya seorang kekasih yang posesif — saya tidak punya pilihan kata lain untuk menggambarkannya. Kekasih kawan saya tersebut juga teman saya. Kami bertiga juga sering terlibat berbagai acara seperti liputan, produksi film, dan bahkan kami bertiga satu organisasi. Namun, pacarnya kawan saya itu masih saja cemburu dengan saya jika saya sedang bersama kawan saya.

Seperti yang terjadi pada hari jumat. Saya, kawan saya, dan seorang lain sedang menggarap sebuah video pembelajaran di salah satu museum di Jakarta. Kawan saya tersebut mengundang kekasihnya untuk membantu dalam pembuatan video pembelajaran. Saya dan seorang yang lain tidak keberatan sama sekali. Sang pacar kawan saya datang membawa sebuah kamera dan melihat kekasihnya bersama dua gadis, yang sangat cantik tentunya. Tetapi ia segera pergi setelah meletakan kamera tanpa menegur kami terlebih dahulu. Kawan saya mengejar kekasihnya yang datang namun langsung pergi. Saya dan seorang yang lain bingung.

“Pundung,” kata kawan saya kepada kami dengan wajah lemas, kesal, sedih, dan perasaan yang tergambar dari raut wajahnya. Produksi harus tetap berjalan.

Jadi, kekasihnya itu sedang cemburu dengan saya. Ternyata, sudah banyak wanita yang ‘dilabrak’ oleh kekasihnya kawan saya karena cemburu buta. Di sini, saya bukan ingin melakukan pembelaan atau pun pembenaran. Tetapi seharusnya kekasihnya itu paham kondisinya. Saya dan kawan saya itu sudah berkawan cukup lama. Saya pun mengenal kekasihnya itu. Kami sering main bersama, berbincang, bercanda, makan bersama, dan liputan. Mengapa masih membangun curiga diantara hubungan pertemanan  saya?

Saya juga memiliki seorang kekasih. Pacarnya kawan saya juga mengenal kekasih saya. Saya pun tidak akan merebut kekasihnya. Kami berteman. Dan memang, mungkin saja terjadi ‘sesuatu’ diantara kami. Tetapi, kesempatan itu tidak akan saya ciptakan, tidak akan saya munculkan, dan tidak akan saya hadirkan karena saya punya seorang kekasih. Terlebih karena saya tidak berminat dengan kawan saya ini sekali pun saya tidak punya kekasih. Saya rasa rasa cemburu yang sedang diderita oleh kekaksihnya kawan saya itu menjelma menjadi rasa curiga.

“Kalo gue jadi bos, terus punya sekretaris gimana, Da? Terus, gimana kalo rekan kerja gue perempuan? Kerjaan gue yang sekarang juga banyak perempuan dan udah dilabrak ama dia.”

Keluhan tersebut saya tampung dan saya cerna. Apa kawan saya itu harus kehilangan pekerjaannya karena rasa cemburu kekasihnya? Meskipun rasa cemburu sedang menghuni hati dan perasaan saya, tetapi saya tidak pernah melakukan pengekangan terhadap kekasih saya. Saya ‘menikmati’ rasa cemburu itu sendirian. Saya ingin memberikan kepercayaan kepada kekasih saya. Saya ingin dia tenang menjalani semua kegiatannya: main, kerja, dan keluarga.

Teman saya yang sekarang menikah berarti telah mampu mengendalikan segalanya, termasuk rasa cemburu. Selamat kepada Nandhita yang sudah menikah. Semoga menjadi istri yang baik, ibu yang baik, dan perempuan yang hebat!

Kami adalah kawan-kawan yang akan selalu ada untukmu. Dan kami pun kelak menjadi perempuan yang akan menjalankan kodratnya. Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s