DOTA: Proses Singkat namun Erat

Jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan… Thank you very much, DOTA..

Saya berharap tulisan ini bisa menjadi dokumentasi tentang hari ini. Persembahakan kecil buat teman-teman saya yang semuanya adalah jurnalis. Petemanan yang terbentuk dalam proses yang singkat namun sudah terasa sangat erat. Tapi hubungan pertemanan ini bukan hubungan yang singkat. Saya dan mereka baru bertemu beberapa kali. Bahkan ada yang baru bertemu hari ini. Setiap hari kami selalu berkomunikasi lewat fitur chatting di handphone masing-masing. Bagaimana hubungan ini bisa saya katakan erat? Tidak perlu dekat untuk menciptkan hubungan yang erat. Pertemanan ini erat! Itu saja.

Sedikit mundur beberapa segmen kehidupan pribadi saya. Saya pernah berniat mengurungkan pendidikan saya supaya tetap satu profesi dengan mereka, untuk tetap berada di wilayah yang saya cita-citakan sebagai seorang jurnalis, untuk bermain lebih lama di tempat ini. Tidak pernah terbayangkan bisa ada “hadiah” yang tidak diduga dalam keseharian saya sebagai jurnalis amatir. Sampai akhirnya tempat saya bekerja, tutup! Saya senang tidak perlu memikirkan bagaiamana cara berpamitan yang sopan. Saya punya kehidupan lain yang ingin saya raih. Tapi saya harus rela libur liputan bermain-main dan bersenang-senang bersama mereka.

Saya pun terlibat dalam sebuah kepanitian. Dan saat saya kehilangan atribut, saya merasa harus mendiskusikannya dengan mereka. Ditengah cobaan yang sedang menerpa saya, hanya mereka yang menunjukkan rasa simpatinya kepada saya dengan mendatangi rumah saya. Padahal, kami belum lama kenal. Dan tidak ada satupun dari mereka yang pernah menginjakkan kaki ke rumah saya sebelumnya.

Jurusan komunikasi yang saya ambil bukan tanpa alasan. Saya ingin jadi jurnalis. Saya ingin bergabung dengan mereka. Saya ingin! Tidak ada alasan lain selain ‘saya ingin’. Dan mereka adalah salah satu pendorong langkah saya, setelah keluarga dan aji (hehe, maaf ya Dota… He is my soulmate).

Dan beberapa jam yang lalu, tepatnya 5 september, adalah hari yang tidak ingin saya lupakan seumur hidup saya. Entah apakah ini emosi sesaat dari saya pribadi atau memang momen ini adalah yang mereka rasakan juga. Singkat namun erat. Saya belum mengenal kata dekat, hingga mereka mengenal saya dan saya mengenal mereka. Jika dekat butuh waktu, maka erat butuh proses. Kami sudah melewati prosesnya terlebih dahulu. Dan saya yakin waktu tidak menjadi masalah, pasti akan terlewati dengan sendirinya.

Saya tidak menyangka dengan apa yang mereka berikan kepada saya. Sangat berharga. Rasanya ingin menangis saat persembahan itu diberikan. Tapi saya tidak ingin menangis. Tidak ingin memperlihatkan air mata saya. Pun itu air mata bahagia. Entah mengapa hari ini saya hanya ingin berbagi tawa dan senyum saya kepada mereka. Ya Tuhan, sungguh! Saya tidak pernah menyangka mereka mempersiapkan itu semua. Padahal saya baru ingin mengatakan bahwa saya bukan bagian dari mereka lagi. Saya ingin katakan kalau sementara ini saya sedang tidak mengenakan atribut jurnalis. Tetapi apa yang terjadi membuat saya tidak tega mengatakannya. Saya tidak ingin kehilangan mereka.

Saya masih sangat berharap tulisan ini bisa mewakilkan perasaan saya kepada pertemanan kami yang terbentuk secara singat namun erat dan tidak bersifat sementara (haha). Dengan sedikit rasa pedih di hati ini, saya mengatakan kepada mereka: “Kawan, apakah saya tetap bagian kalian sekalipun saya sedang tidak memakai atribut yang sama?”…. Ibarat sebuah es jeruk di siang bolong kala menjalani puasa tanpa sahur, mereka menjawab dengan sangat lembut: “Kau tetap bagian kami. Apapun yang kau gunakan. Pertemanan ini tidak mengenakan profesi, tapi menggunakan hati”.

Apa lagi yang saya lakukan selain diam dan menahan rasa sakit, bahagia, senang, sedih, takut? Di dalam dada ini rasanya sesak. Ingin memeluk sesorang di sebelah saya (saat itu cuma ada Ican ama Kayu. Vina, Cocor, dan Ida tepat berada di depan saya). Kak Arya menambahkan kata-kata bijaknya yang sangat saya ingat. Sedikit saya arahkan mata saya ke Si Cyclope, Icoico. Dia hanya tersenyum. Bang Rangga dan Bang DipDip pun hanya mendengarkan saya. Saya tidak tahu apa isi hati mereka. Tapi yang jelas, mereka sangat baik kepada saya. Belum banyak yang bisa saya bagi kepada mereka saat mengenakan atribut jurnalis. Masih bisa dihitung berapa kali saya bertemu dengan mereka di tempat liputan selebihnya kami berbincang tanpa tatapan.

Saya tidak ingin melewatkan setiap cerita kehidupan yang mereka buat. Cerita yang pasti tidak saya rasakan beberapa saat. Soal vendor, liputan, deadline. Ah, pasti saya akan merindukan hal-hal ini. Tapi saya akan terlibat lagi dalam kisah itu, secepatnya! Saya tidak pergi, saya hanya diam sejenak hingga saya menemukan tempat baru yang pas. Ikan kecil ini ingin coba tinggal di lautan, menjadi bagian dari ekosistem. Entah dimakan atau memakan. Tapi kalian pasti akan menjadi tempat yang nyaman untuk saya singgahi setiap menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun. Pun jika DOTA memang sudah tidak ada (entah ganti nama atau sudah sibuk masing-masing). Roda hidup ‘kan selalu berputar. Ingatlah hari ini.

Saya pasti kangen DOTA. Tapi saya tidak kehilangan mereka. Tidak ada istilah mantan teman. Yang ada hanya teman atau musuh. Dan saya yakin mereka tidak akan pernah menjadi musuh saya.  Suatu hari nanti, saya pasti bisa mengenakan lagi atribut yang sama dengan yang mereka kenakan hari ini.

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Telekomunikasi tidak menjadi harga mati. Mereka juga butuh kolam besar, karena mereka adalah ikan besar. Bukan! Mereka tidak butuh kolam. Mereka tidak butuh laut. Mereka perlu samudra! Tapi bukan itu penghubungnya. Katanya, bukan karena kelompok ini berisi jurnalis. DOTA pun cuma sekedar nama, kawan. Hubungan ini lebih dari itu, lebih dari nama, lebih dari sekedar kesamaan atribut. Entah apa pun sebutannya.

Saya belum kenal mereka secara mendalam. Tapi saya akan selalu ingat satu-satu dari mereka yang hadir sekarang. Vina yang sudah saya lihat sejak masih di bangku kuliah. Kebetulan kami satu kampus. Dia yang pertama kali saya kabarkan berita ini. Soal saya kuliah dan soal tempat kerja saya yang balik kanan bubar jalan. Corry yang gemar korea. Dia yang paling ekspresif dan senang berbagi dengan saya. Ida, mpok saya, galak tapi lucu. Semakin galak, semakin senang saya menganggunya. Mpok itu penulis novel “Soccer Love”. Saya bangga kepadanya. Wahyu, si tambeng. Yang sering bales wm sambil naik motor. Semoga mood tidak pernah lagi mengendalikan dirinya, tapi dirinya yang mengendalikan mood.  Arya, kakanda yang bijaksana. Dia ketua panitia acara perdana DOTA. Baiiiik sekali. Mau mengantarkan hingga depan rumah. Tapi saya tidak pernah ingin merepotkan orang sebaik dia, meskipun sekarang Kak Arya tanpa jambul (loh?!). Ichan. Lucu dalam arti jenaka (Haha). Rasa-rasanya bisa jadi partner ‘gila’ selanjutnya. Dia yang paling menghibur dengan tingkah laku dan kata-katanya. Rangga, abang saya, sudah banyak yang dia ceritakan kepada saya dan yang saya ceritakan kepada dia. Bang Rangga yang paling sering saya ajak becanda. Cuma dia yang belum jadi teman Facebook saya sampai saya tulisakan blog ini. Dipta si Bang Dipdip, tragedi hari ini jadi cerita. Dia pendiam dan misterius. Semoga hubungan Bang DipDip dengan kekasihnya langgeng. Terakhir, Rico, Si Cyclope Siwon (haha). Diam-diam saya mengaggumi suaranya. Dia pengaggum rahasia Vetty Vera sampai-sampai merekam saat saya menyanyikan lagu Vetty Vera.

Mereka teman-teman saya. Yang datang ke rumah melihat kondisi saya pasca operasi, yang hampir setiap hari ngobrol di wm, yang berusaha menyukseskan acara perdana DOTA, yang memberikan surprise kepada saya (benar-benar tak terduga), yang tetap menerima saya sebagai bagian dari grup meskipn saya sedang tidak mengenakan atribut, yang lucu, yang ngomongnya berebut, yang baik, yang bisa pulang malem, yang pasti saya sangat berterima kasih kepada mereka. Semoga Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi mereka dan DOTA.

DOTA. Entah kenapa mereka menggunakan nama ini. Padahal DOTA adalah salah satu game tapi penulisannya berbeda dengan DOTA yang ini. Kita  baru bertemu secara singkat namun kita sudah erat. Terima kasih kawan, atas segala kenangan yang kalian ciptakan. Doa, Cinta, dan Keluarga. Jabat tangan erat-erat, Saudaraku! Saya tidak mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, tapi saya akan ucapkan: “Sampai ketemu lagi”…

Singkat namun erat. Kita belum mengenal kata dekat. Jika dekat butuh waktu, maka erat hanya butuh proses. Kita sudah melewati prosesnya terlebih dahulu. Dan saya yakin, waktu tidak menjadi masalah, pasti akan terlewati dengan sendirinya.

Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing, ingatlah hari ini. (Project Pop – Ingatlah hari ini)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s