Pak Sakur yang Penuh Syukur

Pak Sakur. Begitulah biasa ia dipanggil. Laki-laki yang mengajarkan saya soal keikhlasan dan totalitas. Hampir setiap hari dia menjalankan pekerjaannya dengan penuh suka rela. Betapapun beratnya pekerjaan baginya, Pak Sakur tetap mengerjakannya dengan senang hati. Tidak pernah saya dengar ia mengeluh.

Pak Sakur sangat mengerti tentang tugas dan tanggung jawabnya. Saya sangat kagum dan hormat dengan beliau. Sungguh. Bahkan saya tidak pernah menemukan dia meninggalkan solat. “Pak Sakur, solat di tempat solat aja. Jangan di dapur,” tegur saya saat menemukan ia sedang melipat sajadah di dapur.

Dengan senyum Pak Sakur pun menjawab, “Ga apa-apa, Mbak”

Ketulusannya membuat saya terenyuh. Dia bahkan selalu menanyakan apa menu makan siang yang ingin kami (orang sekantor) makan, kemudian menuliskan di secarik kertas, dan membelikannya untuk kami semua dengan uang yang kami beri. Tidak hanya sampai disitu, ia pun menyajikannya dengan piring. Sangat rapih dan beradab.

Ia pun akan menyajikan kami segelas air minum dan menawarkan secangkir kopi di sore hari. Sekali lagi, tanpa disuruh, tanpa mengeluh.

Tidak jarang Pak Sakur mendapatkan upah dari pekerjaannya, berupa uang ataupun barang. Namun ia tidak pernah mengharapkannya. Pak Sakur selalu mensyukuri apa yang ia punya. Menerima dengan rasa terima kasih, berapapun kecilnya.

Pak Sakur mengajarkan saya banyak hal: ketulusan, keikhlasan, totalitas, loyalitas, tangung jawab, ketaatan, dan selalu bersyukur.

 

Advertisements

2 thoughts on “Pak Sakur yang Penuh Syukur

  1. cepet banget lu nulisnya haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s