Tiada Alasan Lain Mengapa Saya Berjilbab Seperti Ini, Selain Karena Allah

Bismillahirrahmanirrahim

Mudah-mudahan para blog walker tidak memandang tulisan ini sebagai bagian dari kesombongan saya. Saya menulis karena saya menyadari keterbatasan saya dalam hal menyampaikan secara lisan. Mungkin dengan tulisan ini, orang akan mengerti apa yang hendak saya ucapkan.

Banyak pertanyaan yang harus saya jawab ketika saya menggunakan jilbab seperti ini? Seperti apa? Yaaa~ panjang. Beberapa pertanyaan yang saya ingat, diantaranya:

–          Kenapa berubahanya kaya membalikan telapak tangan. Cepet amat!

–          Siapa yang mempengaruhi? Ada orang yang mendoktrin kamu?

–          Ini Indonesia. Sesuaikan pakaian dengan di Indonesia. Ikuti yang banyak tapi baik.

–          Ah! Lebay amat sih pake jilbab segitu. Ga usah ekstrem-ektrem lah.

Yaaa.. kira-kira begitu deh yang saya terima. Ada kekhawatiran di dalam diri orang tua saya bahwa dengan berjilbab macam ini (panjang.red) akan menyusahkan saya dalam perkara dunia. Tetapi, Allah, pemilik bumi dan langit beserta isinya, telah memerintahkan seluruh wanita muslim di berbagai belahan dunia untuk menutup auratnya.  Maka, cukuplah Allah sebagai pemeri rejeki, pemelihara, dan sebaik-baiknya pelindung. Saya akan coba jawab pertanyaan itu satu persatu.

Saya pernah mendapat hardikkan sok suci karena punya masa lalu yang gelap. Saya sangat menyadari hal itu. Sangat sadar dan malu terhadap masa-masa jahiliyah yang pernah saya lewati. Tetapi dengan Taubat, insyaAllah, saya ingin membayar semua dosa yang telah saya perbuat.

Bukankah kita seperti hidup di antara dua masa: masa lalu dan masa depan. Masa lalu yang tidak mungkin kita ubah dan hanya bisa bertaubat. Dan, masa depan yang tidak bisa kita tarik, tidak bisa kita pastikan akan seperti apa. Yang kita punya hanyalah hari ini, detik ini. Itulah yang membuat saya tidak ingin  menunda kesempatan (waktu) yang Allah kasih untuk saya sehingga saya berubah seperti membalikkan telapak tangan. Adakah hal lain yang bisa dijadikan alasan selain apa yang sudah saya sebutkan? Tidak kah cukup perintah Allah yang termaktub dalam firman-Nya di dalam Al-Qur’an?

Siapa yang mempengaruhi? Apa perlu saya jawab? Tidak ada satu manusia pun di muka bumi ini yang bisa mempengaruhi saya. Hati saya telah tersentuh dengan nikmatnya ilmu, iman, dan islam. Hmmm, mungkin terdengar sok alim ya, seperti yang sering saya dengar. Tetapi Alhamdulillah, saya punya alasan yang tidak bisa disanggah lagi. Hidayah. Ya, hidayah. Allah telah menganugerahkannya kepada saya dan tidak ingin saya sia-siakan. I don’t care what others say. I’ll do my duty and wear my hijab for Allah. Mudah-mudahan Allah tidak menarik lagi hidayah dari hati saya. Dan semoga para blog walker juga segera meraihnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. [Al Qashash/28 : 56]

Salahkah jika saya berusaha menjadi hamba yang taat? Jika Allah tidak mau menerima taubat saya, tidak mau memaafkan saya, siapa lagi yang bisa menghapus dosa-dosa saya?

Kenapa permasalahkan negara sebagai patokan bagaimana muslimah berpakaian seharusnya. Hmm, coba pake logikanya jika ingin bersama saya berpikir dengan logika. Apakah kandungan Al-Qur’an dibedakan berdasarkan tanah yang kita pijak hari ini? Isinya sama, salah satunya berjilbab sesuai syariat. Yang memerintahkan siapa? Allah! Para istri Rasulullah sudah mengenakan jilbab seperti yang mereka kenakan. Jika istri Rasul salah, tentu Rasul akan menegurnya.

Coba saya ajak kembali berlogika. Rasulullah, manusia terbaik di muka bumi, yang menjadi contoh seluruh umat manusia tentu menginginkan istri soleha, seperti yang laki-laki di zaman ini dambakan. Tentu dia akan menasehari jika istrinya salah. Dan siapakah kita para wanita di zaman ini? Merasa lebih mulia dari istri Rasulullah? Coba baca lagi sejarah Islam yang memuliakan kaum wanita. Coba pakai nalar dan pikira kritis mengapa jilbab jadi seperti sekarang? Tidakkah kalian melihat kepentingan industri yang  menggeser model jilbab?

Kenapa? Mau bilang, ikutin perkembangan zaman dooong. Saya peringati sekali lagi, Al-Qur’an sudah membahas soal masa depan, hingga hari kiamat, tentang ganjaran yang akan diberikan kepada perbuatan manusia. Komplit! Zaman boleh berkembang, tetapi aturan dan ketatapan Allah tidak pernah berubah. Namanya saja sudah KE-TE-TAP-AN! Tetap! Tidak ada tawar menawar. Jilbab hukumnya wajib. Aturannya sudah jelas. Sama seperti aturan wajib lain yang ada, misalnya aturan Shalat, Zakat, Puasa. Tidak pernah berubah sekalipun zaman sudah berubah, sekalipun kalian berada di tanah tak bermanusia!

Anyway, mengenai jilbab. Kenapa saya menggunakan jilbab macam ini? Apa sih manfaatnya? Ssesungguhnya Islam sangat perhatian terhadap saya dan kaum wanita lainnya agar supaya  menjaga kesucian, supaya menjadi wanita mulia dan memiliki kedudukan yang tinggi. Dan syarat-syarat yang diwajibkan pada pakaian dan perhiasannya tidak lain adalah untuk mencegah kerusakan yang timbul akibat tabarruj (berhias diri) dan menjaga dirinya dari gangguan orang-orang. Syariat Ini pun bukan untuk mengekang kebebasan pada diri saya, akan tetapi sebagai pelindung bagi saya agar tidak tergelincir pada lumpur kehinaan lagi. Saya pun tidak ingin  menjadi sasaran sorotan mata dan pusat perhatian dengan pakaian semacam ini hingga kesombongan bergaung di hati saya. Naudzubillahi min dzalik

Lebay? Engga saya rasa. Jika kamu patuh pada aturan sekolah, aturan kantor, maka saya pun demikian. Plus, saya pun mematuhi aturan Allah. Plis deh. Ga usah liberal dengan memisahkan urusan dunia dengan akhiratmu. Dunia ini sarana menuju ke sana. Dimana lagi mau mencari pahala kalau bukan di dunia?

Jika dulu saya dengan bebasnya mengumbar aurat, sesungguhnya saya menyesal telah  melakukan itu semua. Saya menyesal memperlihatkan perhiasan saya kepada laki-laki yang tidak berhak melihatnya. Jilbab ini bukan sebagai cover supaya saya terlihat “benar”. Bukan! Bukan pula bentuk perlawanan ataupun hasil pengaruh dari pihak luar yang dianggap telah mendoktrin saya dengan ajaran-ajaran yang dianggap Islam fundamentalis. Jilbab merupakan bentuk ketaatan saya karena Allah. Allah sudah menurunkan perintah berjilbab lewat QS. Al-Ahzab: 36:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.”

Kenapa saya gunakan yang panjang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:  “Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” | QS. Al Ahzab: 59

Allah, pemilik jagad raya meminta hamba-Nya yang wanita untuk mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh dengan kain yang tebal, tidak membentuk lekuk tubuh, tidak menarik perhatian dengan wewangian, aksesoris, dan lain sebagainya. Tidak cukupkah firman Allah yang berkata? “Sesungguhnya yang buta bukanlah penghilahatan mereka, namun hati merekalah yang buta.” | QS. Al-Hajj: 46

Saya merasa, jilbab telah membebaskan saya. Membebaskan saya dari pikiran nakal laki-laki. Membebaskan saya dari niat jahat kaum adam yang hendak mendekati saya. Tidak ada yang menarik dipandang mata jika berjilbab, tetapi laki-laki beriman akan melihat saya dari keimanan. Bukan keindahan tubuh yang mereka cari, tetapi ketentraman hati dengan meminang perempuan yang bisa diajak bekerja sama untuk meraih surga. InsyaAllah.

Saya belajar dari mana saja. Internet bisa diakses bebas, berbagai kajian bisa dihadiri dengan aman. Gimana tinggal di negara konflik yang menjadikan umat muslim sebagai musuh. Bahkan ketika shalat saja, ancaman sudah mengintai. Desing peluru tiada istirahat. Jika ilmu sudah begini mudah di dapat, kemudahan menjalankan syariat bisa dilaksanakan tanpa ancaman, maka alasan apa yang akan diberikan kepada Allah di hari pengadilan  nanti?

My hijab, my choice

My hijab, my choice

Advertisements

2 thoughts on “Tiada Alasan Lain Mengapa Saya Berjilbab Seperti Ini, Selain Karena Allah

  1. what a nice post, love it 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s