Jangan Buka Aib Karena Allah Telah Menutupinya

Bismillahirrahmanirrahim.

Setiap makhluk di muka bumi ini pasti pernah berbuat dosa. Apa pun dosanya. Dan hanya dengan taubatlah dosa-dosa itu akan terhapus meskipun sebesar bumi. Rahasianya adalah kehebatan Tauhid sehingga mampu mengembalikan manusia kepada jalan kebenaran.

Allah Azza wa Jalla berfirman, “…Dan barangsiapa menjumpai-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Aku, maka Aku akan menjumpainya dengan ampunan yang sepenuh bumi pula”. | HR. Muslim

Terkadang mulut ini tidak bisa dijaga sehingga terucap kesalahan yang pernah dilakukannya. Istilahnya curhat kepada adik, kakak, sahabat, ataupun orang terdekat lainnya. Namun sebenarnya, penyesalan tersebut lebih baik di simpan sendiri jika memang bagian dari aib kita.

Bersyukurlah karena Allah tidak memperlihatkan dosa-dosa kita ke hadapan makhluk yang lain, termasuk aib dan kesalahan masa lalu yang pernah dilakukan. Bayangkan jika dosa dzalim, dosa berbohong, dosa syirik, dosa zina, dan dosa-dosa lainnya meninggalkan bau busuk.

“Jika seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan bau maka tidak seorangpun yang akan duduk denganku” | Siyaar A’laam An-Nubalaa’ 6/120

Maka dari itu, Allah siapkan pintu taubat bagi hamba-Nya yang benar-benar menyesal atas perbuatan di masa lalunya agar kembali men-Tauhid-kan Allah. Sebuah kisah yang diceritakan dari situs ini tentang betapa baiknya Allah yang telah menutup aib kita. Kejadian ini terjadi di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam.

Pada zaman Nabi Musa ‘alaihis salam, bani Israel ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka.

Mereka berkata, “Ya Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami.”

Maka berangkatlah Musa ‘alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh penuh debu, haus dan lapar.

Nabi Musa berdoa, “Ilaahi! Asqinaa ghaitsak…. Wansyur ‘alaina rahmatak… warhamnaa bil athfaal ar rudhdha’… wal bahaaim ar rutta’… wal masyaayikh ar rukka’…..”

Setelah itu langit tetap saja terang benderang… matahari pun bersinar makin kemilau… (maksudnya segumpal awan pun tak jua muncul).

Kemudian Nabi Musa berdoa lagi, “Ilaahi … asqinaa….”

Allah pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian…”

Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun… keluarlah ke hadapan kami…. karena engkaulah hujan tak kunjung turun…”

Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri… maka tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia… saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud…..

Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku… Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.”

Maka hatinya pun gundah gulana… air matanya pun menetes….. menyesali perbuatan maksiatnya… sambil berkata lirih, “Ya Allah… Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun… selama itu pula Engkau menutupi ‘aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku…”

Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun bermunculan… semakin lama semakin tebal menghitam… dan akhirnya turunlah hujan.

Musa pun keheranan, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia.” Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.”

Musa berkata, “Ya Allah… Tunjukkan padaku hamba yang taat itu.”

Allah berfirman, “Ya Musa, Aku tidak membuka ‘aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka ‘aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!”

(Kisah ini dikutip dari buku berjudul “Fii Bathni al-Huut” oleh Syaikh DR. Muhammad Al ‘Ariifi, hal. 42)

Subhaanallah… Kalaulah bukan karena Allah menutupi aib-aib kita…

Penulis: Abu Yazid T. Muhammad Nurdin

Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya berenang di lautan dosa masa lalunya jika ia sudah bertaubat. Jangan jadikan kesalahan masa lalu sebagai menghalang bagi kita untuk ‘terlahir kembali’ menjadi manusia yang baik, jangan jadikan sebagai hambatan untuk menuju jalan kebenaran. Bangkitlah dan jangan ulangi kesalahan tersebut. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun.

Jika Allah saja sudah mengampuni dosa hamba-Nya, lantas mengapa kita masih membebankan kesalahan kepada makhluk berdosa yang sudah bertaubat? 

Jika kita ikut berkontribusi terhadap dosa seseorang, bertaubatlah. Sesungguhnya Allah akan memaafkan dosa hamba-Nya yang bertaubat. Betapa luasnya ampunan Allah kepada hamba-Nya yang Dia sayangi.

“Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. | Az-Zumar :53

Advertisements

One thought on “Jangan Buka Aib Karena Allah Telah Menutupinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s