Ayah, Ditemani Sunyi Aku Merindukanmu

Ayah…

Jika angin berhembus membawa cerita, bumi yang bergetar tanda bencana, awan berkabut hitam tanda bahaya. Maka, ketika aku terdiam di dekat pintu, tanpa berfikir walau menanti kepulanganmu, adaah tanda bahwa aku sangat sayang padamu. Aku sayang kepadamu Ayah, bukan karena engaku pemilik harta yang melimpah, rumah yang sangat mahal lagi megah, kedudukan yang  tinggi hingga setiap orang berkata “Wah!”. Akan tetapi, aku sayang kepada Ayah karena …? karena aku hanya memiliki seorang Ayah. Ya, aku hanya memiliki seorang Ayah. Dan aku tidak ingin kepunyaanku yang berharga dan satu-satunya di dunia ini harus pergi entah di bawah langit mana, yang sangat aku harapkan dapat mengecup keningku dengan kasih sayangnya…

Ayah…

Cukuplah bagiku enanti hari yang tidak akan pernah berhenti berganti. Untuk kepergianmu dariku, seorang yang seharusnya Engkau cintai dan sayangi. Yang kini tengah terduduk sendiri berteman sunyi, engkau temui, lalu engkau berkata kepadanya, “Nak, maaafkan Ayah ya yang telah meninggalkanmu sendiri…”

Ayah…

Biarkanlah langit ini berlapis tujuh. Samudra Atlantik terhampar luas. Tetesan air mata seorang ibu kehilangan tak ternilai harganya. Tahta kerajaan dunia tak akan didapat kecuali setelah berkorban nyawa. Karena bagi diriku, cukuplah seorang Ayah penuh kasih sayang dan cinta yang paling berharga.

Ayah…

Aku masih ingat, saat aku sakit demam. Dipertengahan malam, berteman gelap dan kesunyian, engka bangunkan ibu untuk bergantian menjagaku yang tengah mengeram kedinginan. Lalu engkau menyelimutiku dan meletakan di atas keningku sehelai kain tebal yang telah Ayah basahi dengan air hangat sembari Ayah berucap, “Semoga cepet sembuh ya Nak…” dan entah mengapa kejadian itu masih teringat olehku.

Ayah…

Saat dingin menyelimuti, panasnya matahari yang membakar diri, gelapnya malam yang tak kunjung pergi. Entah mengapa yang aku ingat adalah engkau, yang aku rindukan adalah senyum teduhmu, yang aku harapkan adalah kehadiranmu. Dan entah mengapa aku selalu teringat bayangamu yang kini tak muda lagi, bahumu yang engkau gunakan untuk mencari sesuap rezeki, tetesan keringat yang senantiasa menemani, matahari yang menjadi teman sejati, saat engkau mengayuh vespa tuamu di awal hari…

Ayah…

Aku sadari aku bukanlah mimpi indahmu, langit teduhmu, angin sejukmu, awan rindumu, lalu cintamu dan samudera kasih sayangmu. Namun ayah, diriku sangatlah berharap, kelak aku lah diantara anak-anak yang mampu mencintai, menyayangi, merindui Ayahnya sendiri, hingga terucap setangkai kata-kata cinta, “Ayah ditemani sunyi aku merindukanmu…” kepada Ayahku, yang aku sayangi…

Ayah.. Andai engkau izinkan aku berhayal, aku tidak ingin berhayal bisa menginjakkan kedua kakiku di bulan. Tidak pula berhayal dapat mengurangi Samudera dengan sampan. Akan tetapi andai ayah izinkan aku berhayal, aku hanya ingin berhayal seperti Ustadz Dr Muhammad Arifin Badri, M.A yang hebat MasyaAllaah katena tulisannya, seperti Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdad yang lantang dalam berdakwahnya, seperti Ustadz Armen Halim Naro, Lc yang puiti kata-katanya. Namun aku sadari, siapa aku ini…

Ya Allaah, tenggelamkanlah nama Ayahku ke dalam Samudera luas, dan angkatlah ia ke langit ketujuh. lalu berikanlah pada anaknya ilmu agama yang shohih, pasangan hidup yang soleh, akhlak mulia dan hati yang senantiasa ikhlas mengarap Surga-Mu.

Diketik ulang dengan beberapa perubahan. Abu ‘Uyainah As-Sahaby. “Ayah Ditemani Sunyi Aku Merindukanmu”, hal. 2-5.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s