Love is Like A Shoes

Ketika ada yang bertanya apakah saya baik-baik saja? Saya selalu jawab bahwa saya baik-baik saja. Mengapa hal itu sulit dipercaya oleh mereka? Apa yang harus saya lakukan untuk meyakinkan mereka bahwa saya baik-baik saja. Masalahnya, saya sendiri juga kesulitan meyakinkan diri saya bahwa saya baik-baik saja. Mungkin hal ini sangat tergambar di wajah saya. Boleh gak sih, ketika pertanyaan itu diajukan kepada saya, saya geret orang tua saya untuk membantu saya dalam menjawab semua pertanyaan “dida gak apa-apa?”, “kapan nyusul?” dan lain-lain? Pada akhirnya, semua memang harus saya hadapi sendiri. Keputusan, pertanyaan, dan rahasia hati ini.

Tidak rela? Hmm, egois rasanya jika ini terbesit di dalam hati saya. Saya rela se-rela-relanya dengan apa yang hendak terjadi. Bertauhid dengan sebenar-benarnya tauhid. Klise? Sok alim? Ah! Dicap dengan berbagai cap sudah biasa saya terima. Pun itu tidak saya dengar sendiri di telinga saya. Toh, manusia memang cuma bisa berkomentar dengan apa yang dilihatnya. Gak usah yang jelek, yang bagus aja kadang dikomentari gak enak.

Seperti memakai sepatu, orang lain yang mengomentari tapi kita yang merasakannya.

love is like a shoes

Before you judge my life, my past..
Walk in my shoes, walk the path i have traveled, live my sorrow, my doubts, my fears, my pain, and my laughter
REMEMBER… Everyone has a story.
When you’ve lived my live, than you can judge me

May Allah forgive us.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s