Rider Becomes Angker

I’m a half riders. 😀

Status gue menjadi riders agaknya harus hilang setengah. Pasalnya, sekarang gue lebih sering menggunakan transportasi umum ketimbang kendaraan roda dua kesayangan gue, Daniel Si Motor Lintas Provinsi. Yup! Sejak bekerja di bilangan Jakarta Selatan, gue lebih senang memanfaatkan kereta api. Pernah nyicip naik motor dari rumah ke kantor. Namun, jarak sejauh 40 km dan rintangan macet membuat gue berpikir ulang untuk tetap menggunakan motor. Perlu strategi baru supaya lebih efektif dan efisien. Pilihan gue tertuju pada kereta api.

Meski sempat bingung dengan “gaya baru mengais rejeki”, tapi perjalanan gue setiap hari selalu menyenangkan. Setidaknya sampai hari ini. Setiap perjalanan kereta meninggalkan cerita. Itulah yang gue rasakan 3 hari belakangan ini. Terima kasih kepada pemerintah yang telah men-tranformasi-kan fasilitas kereta api sehingga semakin nyaman. *two thumbs up*

Well… Gak seru namanya kalau cuma dirasain sendirian, right? Jadi, gue mau berbagi sedikit cerita di tiga hari belakangan ini. In shaa Allah, pengalaman berkereta akan gue share setiap hari. ANGKKKKEEEEERRRRR!!

Hari pertama yang sangat grogi. Gue belum berani  naik kereta dari Stasiun Bekasi dan melawan fans militan kereta api. Gue belum cukup tangguh saudara-saudara. Jadi, gue ikut adik gue ke Stasiun Manggarai menuju Stasiun Tanjung Barat. (Hayooo~ mulai nebak gue kerja dimana yaaaaa…).

Sesampainya di sana, gue tanya ke petugas yang siap siaga “Pak, kereta tiba pukul berapa?”. Lalu dengan tegap, Bapak Petugas menjawab “Biasanya, kereta terlambat. Tapi itu cerita lama”. Tsssaaaahhh~… Kagak deng. Bapaknya gak jawab gitu. Gue juga gak nanya kaya gitu juga keleuuus. Gue cuma nanya, “kereta ke bogor di jalur berapa?”.. Woillllaaah~ jauh amat neng ampe Bogor. Padahal turun di Tanjung Barat.

Setelah mendapat jawaban, gue pun berjalan menuju jalur 6. Terlihat deh tuh kereta yang mangkal di jalur 6.  Dengan gagah perkasa penuh percaya diri, gue seberangi jalur demi jalur. Tapi gue gagal di jalur terakhir. Petugas yang di jalur itu memberhentikan gue. Ada kereta mau lewat di jalur terakhir yang mau gue seberangin. Gue kira sebentar, ternyata dia mangkal. Keretanya panjang, nutupin jalur gue nyebrang. Terus, dengan teganya, kereta di jalur 6 melaju begitu aja, meninggalkan gue bermuka nestapa… TT_TT. Untungnya kereta berikutnya dateng 10 menit kemudian. Jadi gak nunggu lama-lama amat. Bahagiaaaa itu sederhana. Alhamdulillaah.

Karena pergi naik kereta, pulang pun gue berniat naik kereta. Kata adek gue, “kereta dari Manggarai ke Bekasi itu penuh. Nanti di dalem kereta, lo bisa jadi pepes paus. Gak mungkin pepes teri, soalnya elo kan gede, Ni (Re: Uni, panggilan kakak dalam bahasa Padang).” Haha! Gue gak takut. Gue jago silat. Ya kali bisa kepake. Tapi Allaah Ta’ala menakdirkan yang berbeda. Gue harus lembur sampai jam setengah 8 malem laaah. Gue membayangkan Stasiun Manggarai udah rada sepi laaah. Masa jam 8 malem masih bejubel. Pas gue sampe Stasiun Manggarai, masih rame. Moderat laaah. Tapi di dalem keretanya rame. Di setiap stasiun, jumlah penumpang turun lebih sedikit penumpang yang naik. Padeeet. Gue pun jadi pepes paus bekasi. Tapi lebih baik jadi pepes paus daripada paus asin karena kelamaan dijalan.

Seru kan? Nantikan cerita seru Dida, a half rider, berikutnya. Hore hore lalala!

Advertisements

2 thoughts on “Rider Becomes Angker

  1. Horeee.. Dida jadi roker jugak.. Selamat menikmati kereta yaaa 😀
    Semoga ga sering-sering jadi pepes paus bekasi yes.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s