Skoliosis dan Kereta Api

Ada hubungan apa antara kereta api dan skoliosis?

Assalamu’alaikum readers….
Cieee elaaah.. Gue mau kasih tau lagi kalo gue sekarang jadi anker dan gue masih newbie. Kereta yang gue naikin setiap hari adalah kereta api dari Bekasi menuju Tanjung Barat. Dari perjalanan kereta itu, gue harus transit di stasiun Manggarai. Berhubung adik saya kerja di Sudirman, udah aja gue ikutan nebeng dia ampe Manggarai setiap mau berangkat, baru naik kereta.  Jadi gue gak perlu bejejelan dari kereta api Bekasi menuju Manggarai. Alhamudillaah amaaaan. Dari stasiun Manggarai menuju stasiun Tanjung Barat, situasi gerbongnya aman terkendali. Gak banyak orang yang naik. Jaraknya juga deket. Cuma 15menit-an lah kayaknya.

Masalah terjadi ketika gue pulang. Kalo pulang, gue naik kereta dari stasiun Pasar Minggu. Naaah, begitu di Stasiun Manggarai menuju Bekasi. Heboooohhh bangeet penumpangnya. Hampir setiap hari peron di jalur 4 ataupun 2 selalu dipadati masyarakat Bekasi. Gue belum pernah dapet duduk. Selalu berdiri.

Sebagai skolioser, berdiri di kereta api dari Stasiun Manggarai sampai Bekasi punya ‘sensasi’ tersendiri. Belum lagi nunggu kereta yang kadang lamaaaa datengnya. Jarak tempuh kereta yang cukup lama membuat durasi berdiri juga semakin panjang. Pluuuus kalo keretanya parkir lama di-menuju- Stasiun Klender dan Stasiun Cakung.

Gue gak tau, apakah semua skolioser mengalami hal yang sama. Gue gak bisa duduk terlalu lama dan berdiri terlalu lama. Mengingat kondisi gerbong kereta dari Stasiun Manggarai ke Stasiun Bekasi yang penuh, otomatis gue gak bisa duduk. Ternyataaaaa menyiksaaa banget saudara-saudaraaa. Gue bukan masuk karegori orang yang bisa duduk di “kursi prioritas”, jadi gak bisa minta duduk ke orang.

Suatu hari, gue coba naik kereta dari Staisun Bekasi menuju Stasiun Manggarai. Saking gue gak kuat berdiri lagi, gue pernah pingsan di dalem kereta. Hahaha. Gak jatoh sih. Cuma gue minta toleransi penumpang lain untuk kasih ruang buat gue jongkok. Saat itu, gue duduk di paling belakang. Jadi bisa nyender gak begitu ganggu.

Rasanya berdiri lama-lama bagi skolioser itu kaya lo gendong beban berat di punggung seharian. Nah! Padahal gue cuma berdiri yaaa 1 jam laaah. Haha

Well, gue masih belum menemukan formulasi supaya skolioser bisa nyaman di dalam kereta yang penuh sesak itu. Tapi, perjalanan ini terus gue tempuh siiihhh… Meniti karir di lembaga kemanusiaan yang gue tempati sekarang. Skoliosis bukan hambatan untuk setara dengan yang lain. We bend but not broken. Hiduppp skoliosis!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s