Ritual Tahun Baru: Macet

Gue bekerja di kantor yang tanggal 31 Desember masih masuk seperti biasa dan pulang seperti biasa. Hal ini gak jadi beban. Sungguh. Tapi satu hal yang sampe sekarang muter-muter di kepala gue pasti jadi pikiran orang yang juga masuk sampai 31 Desember, yaitu CARA PULANG.

Sebagai pengguna jalan yang telah berpengalaman malang-melintang menghadapi tahun baru sebanyak 28 kali, yang namanya jalan di malam tahun baru tuh gak pernah sepi. Well, seperti yang udah-udah. Tahun baru pasti dimeriahkan sama pesta. Hampir di semua titik pasti ada keramaian dan keriaan. Muda-muda udah tentu tumpah-ruah ke jalan. Mereka udah siap-siap dari jam 4 sore (mungkin) dari rumahnya supaya: gak kena macet dan bisa menikmati malam tahun baru di tempat yang emang diperuntukan untuk tahun baru.

Udah dari kemaren gue mikirin gimana cara gue pulang ke rumah. Gue yang sehari-hari kerja di TB Simatupang, butuh waktu 2 jam untuk menikmati setiap lekuk jalanan di hari-hari biasa. Tahun lalu, jalanan menuju rumah gue maceeeeett.. Ada pasar kaget dari ujung jalan ke ujung satunya. Orang-orang jualan areng, ikan, jagung, kipas, dan alat bakar sate. Selain itu, ada juga acara tahun baru yang dibikin sama pihak developer untuk memanjakan penghuninya. Kayaknya developer gak memprediksi pertumbuhan ABG yang bakal dateng. Mereka bikin panggung dan serentetan hiburan lainnya.

Sekarang gue pusing gimana caranya bisa sampe ke rumah. Masa jalan kaki. Punya solusi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s