Dampak Perang: Perkembangan Otak 87 Juta Anak Terhambat

Dampak Perang: Perkembangan Otak 87 Juta Anak Terhambat

ACTNews, JAKARTA – Dalam satu kesempatan sua dengan seorang anak muda Suriah, Oktober tahun lalu di Suriah, sebuah kisah memilukan terungkap. Memilukan, karena ini lebih dari sekedar luka fisik atau kehancuran infrastrukur sepanjang enam tahun konflik di Suriah. Serangan super ofensif rezim terhadap beberapa wilayah tak mengenal target sama sekali. Rumah warga sipil, tempat ibadah, rumah sakit, sekolah, kampus, pasar, panti asuhan semua tak luput dari hujan bom barel.

“Tak heran kalau kami (warga sipil) harus pergi keluar dari rumah kami, jauh mengungsi,” kata sang pemuda yang tak ingin dikutip namanya.  Ia yang mengungsi bersama seluruh keluarganya keluar Suriah (menetap di Turki), harus putus kuliah dari sebuah kampus di Damaskus akibat konflik.

“Kami, di Suriah, boleh dibilang sekarang sudah kehilangan empat generasi. Semua sarana pendidikan (sekolah) boleh dibilang sekarang semuanya hancur. Kami, anak sekolah dasar, menengah sampai yang berkuliah tak bisa lagi sekolah,” ujarnya pada ACTNews. Tak ayal, konflik di Suriah menjadi satu bukti bahwa baku kekerasan jadi jalan menuju kehancuran dan kemunduran sebuah peradaban. Dampak perang mematikan masa depan generasi baru sebuah negeri.

Laporan Lembaga Bantuan Anak Dunia  (Unicef) seperti memberi afirmasi atas kondisi yang diungkap oleh sang anak muda. Hingga hari ini ada lebih dari 87 juta anak-anak korban konflik sipil di berbagai belahan dunia, termasuk Suriah harus mengalami keterlambatan perkembangan otak yang signifikan. Artinya, hak mereka untuk berkembang, bermain dan bersekolah harus kandas dan terhambat akibat perang.

Dampak perang bagi anak-anak yang paling terasa adalah terhambatnya koneksi sel otak anak. Akibatnya tergaanggunya koneksi ini,  anak-anak itu mengalami gangguan kesehatan, gangguan emosianal dan penurunan kemampuan belajar anak. Bahkan dalam kondisi perang yang berlarut-larut seperti  di Suriah, mereka tak hanya mengalami gangguan ancaman fisik semata namun juga berisiko terluka luar dan dalam.

Pada akhirnya, perang di seluruh dunia hanya akan merenggut rasa aman anak-anak. Mengambil semua kebahagiaan anak-anak di masa kecil seperti keluarga, teman-teman seumuran, rasa bahagia bermain bersama. Semua kesempatan baik anak-anak yang terenggut oleh kondisi perang seperti di Suriah hanya akan memberikan pengalaman rasa sakit fisik dan emosional.

Mungkin, bagi jutaan anak-anak Suriah yang harus mengalami derita perang di negerinya takkan ada lagi kesempatan bagi mereka berkembang dan belajar secara efektif. Trauma perang bagi anak-anak,  adalah penyakit paling menakutkan. Kondisi stres si anak akan menghambat total perkembangan otak dan membiarkan si anak terjebak dalam ingatan mengerikan tentang perang seumur hidupnya.

Penulis: Shulhan Syamsur Rijal
Editor: Bambang Triyono

Sumber: http://act.id/id/whats-happening/view/2637/dampak-perang-perkembangan-otak-87-juta-anak-terhambat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s